• Seperti biasa, penampilan Manchester City dibawah arahan Pep Guardiola musim ini sangat menawan. Mereka memimpin klasemen sementara Premier League dengan perolehan 59 poin, unggul 11 poin dari peringkat dua Liverpool yang baru mengumpulkan 48 poin (masih ada cadangan satu laga), dan 12 poin dari Chelsea diperingkat ketiga
  • Negeri ini tidak pernah habis akan sensasi. Semua saling sikut hanya demi sebuah gengsi, yang kulihat belakangan ini satu sama lain malah saling ingin menghabisi. Betapa sedihnya melihat kondisi negeri ini
  • Arsenal kembali menjalani tren buruk di Premier League, seolah menjadi lanjutan dari apa yang dialami musim lalu, yang membuat mereka harus rela duduk diposisi ke delapan klasemen akhir, plus kehilangan kesempatan untuk main dikompetisi tertinggi antar klub Eropa, Liga Champion untuk kesekian kalinya
  • Awalnya Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa musim lalu Chelsea yang akan keluar sebagai juara Liga Champion. Semua terjadi seakan-akan memang Chelsea sudah ditakdirkan untuk meraih trofi si kuping besar, mulai dari pembagian grup yang relatif lebih mudah, hingga jalan menuju final yang terbilang mulus tanpa hambatan
  • Emiliano Martinez menjadi salah satu nama yang paling sering berseliweran di jagat berita dan media sosial setelah keberhasilan Argentina menjadi juara Copa America 2021. Yang membuatnya menjadi bahan obrolan tentu saja berkat aksi gemilangnya sepanjang turnamen, dan bagaimana saat ia berhasil menepis tiga eksekusi penalti Kolombia yang terjadi saat babak adu penalti di semifinal
Showing posts with label Ligue 1. Show all posts
Showing posts with label Ligue 1. Show all posts

4/18/21

Semifinal UCL 2020/21 : Semua Tim Punya Peluang yang Sama

Oleh : Ary Ditio Baihaqi (@arybaihaqi_10)

Liga Champion 2020/21 telah sampai pada fase semifinal dan kini tinggal menyisakan empat tim terbaik. Berbeda dengan edisi di dua musim sebelumnya, semifinal kali ini berisikan kesebelasan yang sedari awal memang telah diprediksi akan sampai hingga ke tahap ini.

Semifinal UCL 2021 Chelsea Madrid Man City PSG
(Pict: UEFA.com)

Ada PSG yang merupakan finalis musim lalu, Manchester City yang tengah dalam performa terbaiknya di liga, dan Real Madrid yang kembali berada dalam bursa persaingan juara setelah absen beberapa musim. Mungkin hanya Chelsea yang tidak di duga akan bertahan hingga sejauh ini.

Sedikit kilas balik ke belakang, Beberapa unggulan lainnya telah gugur satu per satu dalam perjalanan menyusuri kompetisi sepakbola tertinggi Eropa. Liverpool dan sang juara bertahan FC Bayern terhenti langkahnya dibabak 8 besar, sebelumnya ada Barcelona dan Juventus yang mengakhiri perjalanannya lebih cepat di babak 16 besar.

Baca Juga : Pesona Seorang Figuran Bernama Eric Maxim-Choupo-Moting

Jika melihat trennya saat ini, mungkin sulit untuk menebak siapa yang akhirnya yang akan menjadi juara. Walaupun memang prediksi semacam ini tidak sepenuhnya benar, tetapi dengan adanya sebuah analisa yang melihat peluang tim dengan memperhatikan berbagai faktor terkait menjadikan sebuah turnamen menjadi lebih menarik.

Saya yakin semua orang pasti punya analisa dan tebakannya masing-masing, entah apa indikator yang digunakan, tapi kali ini bagi saya semua tim punya peluang yang hampir sama, atau jika memang lebih mungkin hanya beda sedikit. Kenapa bisa begitu? Ada baiknya bisa dibaca penjelasannya dibawah ini :

Real Madrid vs Chelsea, Pembuktian Zidane dan Langkah Keberuntungan Tuchel

Real Madrid memulai perjalanan Liga Champion musim ini dengan optimisme tinggi. Walau sepeninggal sang mega bintang Cristiano Ronaldo dan mulai menurunnya performa para pemain utama akibat faktor usia, Real Madrid sebenarnya mulai sedikit tersisihkan dari daftar unggulan juara.

Meski begitu, rekam jejak mereka hingga ke semifinal bisa dibilang tidak begitu bermasalah. Menjadi pemuncak grup dengan catatan tiga kali menang, sekali imbang, dan dua kekalahan, dibabak 16 besar juga berhasil mengalahkan kuda hitam asal Italia Atalanta dalam dua leg.

Real Madrid Semifinal UCL
(Pict: marca.com)

Laga penentu sebenarnya ada di babak 8 besar ketika undian mempertemukan mereka dengan tim heavy metal, Liverpool. Selama ini Real Madrid memang dihadapkan dengan lawan-lawan yang relatif tidak sulit (Mungkin hanya Inter Milan), maka dari itu pertemuan dengan tim anak asuh Jurgen Klopp ini dianggap sebagai tes kelayakan untuk Real Madrid apakah bisa kembali untuk berbicara banyak mengenai perebutan trofi juara.

Dan terbukti, Real Madrid berhasil melewati ujian itu dan membuat Liverpool tidak berdaya. Kemenangan atas Liverpool meningkatkan kepercayaan diri Benzema dan kolega untuk menatap semifinal nanti, apalagi mereka juga masuk kedalam perburuan juara La Liga, butuh ekstra fokus agar setidaknya tidak lepas dikedua peluang tersebut.

Mau Tulisan Kamu di Posting di Counterattack Football Blog? Yuk Jadi Guest Blog, kirim naskah kamu ke counterattackina@gmail.com sekarang!

Untuk Chelsea, saya bisa bilang bahwa mereka adalah tim yang paling beruntung sejauh ini. Dari babak penyisihan grup hingga 8 besar, mereka selalu bertemu dengan tim yang secara kualitas dan pengalaman satu dua tingkat dibawah.

Tuchel selalu menganggap setiap pertandingan sebagai final, maka tak heran jika ia selalu menginstruksikan timnya untuk selalu bermain total hingga peluit menit akhir dibunyikan.

Chelsea Semifinal UCL

Chelsea saat ini adalah tim yang penuh dengan kejutan, mereka bisa tampil dengan sangat baik, tapi disatu waktu mereka bisa benar-benar turun dan tidak terlihat seperti yang diharapkan. Ini adalah masalah yang harus segera dibenahi. Faktor keberuntungan tidak datang setiap waktu, dan tidak semestinya juga bergantung pada sesuatu yang tak pasti, tetapi jika keberuntungan itu datang disaat yang tepat momen seperti Final Liga Champion 2012 Munich bisa saja kita lihat kembali.

PSG vs Man City, Adu Ambisi Besar Memperebutkan Gelar Perdana

Ini adalah laga yang semua orang harap seharusnya terjadi di final. Dua tim dengan ambisi besar untuk menjadi juara. Kita semua tahu bagaimana apesnya kedua kesebelasan dalam beberapa tahun terakhir, dengan skuad mumpuni dan gaya permainan yang atraktif tapi selalu gagal ketika dimomen puncak.

Pep Guardiola tentu tidak ingin menyia-nyiakan lagi kesempatan ini, performa gemilang di kompetisi domestik diharapkan memberi dampak positif untuk perjuangan mereka di Eropa. Apalagi kondisi pemain yang sebelumnya dibekap cedera telah berangsur pulih, seperti Kevin De Bruyne dan Sergio Aguero.

Manchester City Semifinal UCL

Diprediksi Pep akan mengeluarkan kemampuan terbaik timnya kali ini. Mereka akan mati-matian menghadapi PSG hingga menit terakhir. Kesuksesan sang pelatih asal Spanyol memang belum lengkap tanpa trofi ini, maka ia tidak akan membiarkan hal itu menjadi mimpi buruk yang akan menghantuinya lagi. Strategi rotasi pemain yang juga keahlian Pep sangat dibutuhkan karena masih harus membagi fokusnya ke beberapa kompetisi.

PSG Sejak dibawah komando Mauricio Pochettino sejatinya belum begitu stabil penampilannya. Bahkan saat ini mereka ada diurutan kedua Ligue 1, beda empat poin dengan Lille sebagai pemuncak klasemen sementara. Hal ini tak lepas dari permulaan musim yang buruk dimana hingga saat ini PSG telah menelan 8 kekalahan, sesuatu yang tak pernah mereka alami sebelumnya semenjak menjadi penguasa Perancis.

Hal tersebut kontras dengan apa yang mereka perlihatkan di Liga Champion. Neymar dan kolega sukses tampil perkasa dari awal fase grup mengikuti sepanjang babak knockout.

PSG Semifinal UCL 2021
(Pict: forbes.com)

Jika melakukan perbandingan, apa yang dihadapi PSG untuk bisa sampai ke tahap ini bisa dibilang lebih berat dari semifinalis lainnya. Pertama berada satu grup dengan klub-klub mapan seperti RB Leipzig dan Man United, tidak lupa juga sang debutan asal Turki, Istanbul Basaksehir. Mereka berhasil melewatinya dengan baik dan menjadi pemuncak grup.

Kedua, undian fase knockout masih belum berpihak juga, mereka kembali dihadapkan dengan klub-klub unggulan seperti Barcelona dan FC Bayern. Nama terakhir sejatinya menjadi yang cukup menyulitkan karena sampai harus menunggu hingga menit terakhir laga untuk memastikan diri menang dan lolos ke babak selanjutnya, dan sekarang bertemu dengan lawan kuat Man City.

Seandainya merujuk pada poin-poin diatas, dan jika nanti menang melawan Man City, saya rasa PSG sudah selayaknya jadi yang paling berhak membawa pulang trofi si kuping besar. Bukan apa-apa, pasalnya perjuangan mereka untuk bisa sampai disini dan segalanya yang telah dipertaruhkan pantas untuk diganjar dengan gelar juara.

Tetapi, sepakbola tidak mengenal nilai-nilai sentimentil seperti itu, layak atau tidaknya sebuah tim menjadi juara tetap ditentukan melalui 90 menit di atas lapangan. Turnamen dengan sistem gugur seperti UCL ini lebih mementingkan hasil pada satu pertandingan saja. Artinya, perjuangan yang telah dilalui sebelumnya tidak bisa dijadikan sebagai acuan mutlak.

Oleh sebab itu, ada baiknya untuk melupakan semua kegembiraan dimasa lalu dan fokus untuk menghadapi pertandingan di depan. Ini akan menjadi sebuah momen hidup dan mati bagi semua tim. Dengan kepentingannya masing-masing, kita akan melihat mana yang memang layak sebagai juara sesungguhnya.


3/20/21

Pesona Seorang Figuran Bernama Eric Maxim Choupo-Moting

Oleh : Ary Ditio Baihaqi (@arybaihaqi_10)

Bayern berhasil melaju ke babak perempat final Liga Champion musim ini setelah mengalahkan Lazio dengan agregat yang meyakinkan, 6 – 2. Kuncinya ada di leg pertama ketika mereka berhasil mengalahkan Lazio dikandangnya dengan skor 1 – 4. Hasil tersebut jadi lebih mempermudah tugas Robert Lewandowski dan kolega di leg kedua, yang akhirnya di leg kedua pun Bayern masih terlalu tangguh untuk Lazio dan menang lagi dengan skor 2 – 1. Kemenangan Bayern kali ini cukup menarik perhatian, karena salah satu dari dua gol yang dicetak ke gawang Lazio pada kamis dini hari ditorehkan oleh seorang bernama Eric Maxim Choupo-Moting.

Choupo Moting, PSG, Munchen

Sebenarnya Choupo-Moting bukan nama yang asing di telinga para penikmat sepakbola, ia terkenal bukan karena kemampuannya di lapangan yang ajaib atau catatan statistiknya yang memukau, melainkan karna dengan segala sesuatu yang ada dalam dirinya yang serba pas pasan ia mampu untu menarik perhatian kesebelasan elite Eropa, salah satunya PSG dan Bayern.

Lantas bagaimana ceritanya seorang pemain yang biasa-biasa saja tetapi bisa merasakan bermain dengan banyak kesebelasan ternama?

Choupo-Moting tumbuh dan besar sebagai pesepakbola di Jerman, tepatnya di kota Hamburg. Ia sempat memperkuat beberapa kesebelasan disana seperti Hamburg SV, Nurnberg, dan Mainz. Tetapi namanya mulai dikenal luas ketika memperkuat Schalke pada musim 2014/15. Musim pertamanya membela Die Königsblauen cukup baik dengan mencatatkan 31 penampilan dengan rincian 9 gol dan 6 asis. Choupo-Moting bertahan selama 3 musim sebelum akhirnya mengembara ke beberapa tim salah satunya kontestan Premier League, Stoke City.

Uniknya setiap kepindahannya dari satu tim ke tim yang lain sepanjang karir, setiap tim yang mendatangkannya tidak pernah mengeluarkan uang tebusan atau fee. Ia selalu di datangkan secara gratis, bahkan Harga pasarnya paling mahal hanya menyentuh angka 8 Juta Euro pada musim 2018/19. Dan jika diperhatikan rekam jejak karirnya selama ini, memang tidak ada yang terlihat istimewa dari pemain timnas Kamerun ini.

Baca Juga : Meniru Semangat dan Gairah Sepakbola Lille  

Jika kita melihat dari hal-hal yang telah disebutkan diatas rasanya sulit untuk melihat apa yang telah di dapatkan oleh Choupo-Moting saat ini. Karena diluar sana banyak sekali pemain yang jika dibandingkan secara kualitas lebih baik, dan secara usia untuk masa depan jauh lebih menjanjikan. Tetapi ada beberapa hal yang luput dari perhatian banyak orang mengenai kelebihannya yang sebenarnya dimiliki dan membuat beberapa klub berpikir untuk menggunakan jasanya.

Berperan Penting Sebagai Pemain Backup

Ini adalah alasan utama mengapa Choupo-Moting masih dibutuhkan bahkan oleh tim elite sekalipun. Untuk sekelas pemain “pengganti” saat ini ia adalah pilihan terbaik yang ada diposisinya. Tidak ada yang mau berada di sebuah tim tanpa jaminan menit bermain yang pasti, apalagi bagi pemain muda yang seharusnya lebih banyak mendapatkan jam terbang lebih banyak untuk meningkatkan potensinya. Bagi Choupo-Moting tidak ada desakan baginya untuk terus bermain setiap minggunya. Tugasnya hanya bermain dengan sebaik-baiknya jika pelatih memintanya untuk turun.

Jika melihat penampilannya bersama PSG, dari dua musim Choupo-Moting hanya bermain sebanyak 31 laga dengan mencetak 6 gol dan 1 asis. Kita tidak berfokus pada jumlah laga yang dimainkannya tetapi dampak yang diberikannya ketika tampil. Salah satunya musim lalu pada laga perempat final Liga Champion. Atalanta yang hampir memastikan langkahnya ke semifinal akhirnya harus sirna setelah PSG mencetak sepasang gol dimenit akhir yang di cetak oleh Marquinhos dan Choupo-Moting. Jika gol terakhir tidak tercipta bisa saja jalan ceritanya akan berbeda dan PSG tidak akan benar-benar bisa merasakan final pertamanya saat itu.

Namun Choupo-Moting bukannya tak luput dari kesalahan. Hal yang paling di ingat adalah ketika ia secara tidak sengaja menghentikan laju bola hasil sontekan Christoper Nkunku yang mengarah ke gawang yang kosong, alhasil peluang yang seharusnya berbuah menjadi gol malah berakhir kegagalan. Momen ini terjadi dalam laga lanjutan Ligue 1 ketika PSG bertemu dengan Strasbourg.

Choupo Moting, PSG, Bayern
(Pict: @SquawkaNews)  

Dalam dunia sepakbola memang sudah hal lumrah untuk memberikan status kepada para pemainnya yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu pemain utama dan pemain rotasi. Secara teori pemain utama pasti akan mendapatkan menit bermain yang lebih banyak dari pemain rotasi, akan tetapi sewaktu-waktu tim juga pasti akan melakukan pergantian dalam skuadnya untuk beberapa waktu, dan disinilah peran pemain rotasi itu dibutuhkan. Mau pemain rotasi atau bukan setiap pelatih selalu menginginkan pemainnya untuk tampil baik dalam setiap laga, maka dari itu setiap pemain yang ada di dalam tim sama pentingnya.

Peran sebagai pemain backup memang baru diembannya semenjak bergabung dengan PSG dimusim 2018/19. Sebelumnya ia selalu menjadi pilihan utama di tim terdahulu, walau memang pencapaiannya tidak begitu mentereng. Tetapi, dengan peran barunya ini ia bisa memiliki pengalaman yang tidak semua pemain di dunia bisa rasakan, yaitu bermain dengan dua tim finalis Liga Champion 2019/20, PSG dan Bayern.

Hidup ini tidak melulu soal siapa yang menjadi pemeran utamanya, terkadang kita lupa bahwa tanpa pemeran pendukung sesuatu tidak akan menjadi seindah seperti apa yang kita lihat. Konsep ini berlaku dibanyak situasi, tak terkecuali sepakbola. Tak ada salahnya hanya menjadi "figuran" dalam sebuah cerita yang megah.


2/01/21

Harapan Besar Chelsea Pada Diri Thomas Tuchel

Oleh  :  Ary Ditio Baihaqi  (@arybaihaqi_10)

Beberapa hari lalu, Chelsea baru saja mengumumkan pemecatan Frank Lampard dari jabatannya sebagai pelatih kepala. Kebersamaan yang telah terjalin selama kurang lebih satu setengah musim harus berakhir dengan tidak baik baik saja. Pihak manajemen merasa bahwa Lampard belum mampu untuk membawa tim konsisten bersaing dipapan atas, walau sebelumnya ia telah diberi kebebasan untuk mendatangkan pemain baru sesuai dengan keinginannya, yang kalau dilihat dari sisi harga, tentu saja tidak murah.

Thomas Tuchel, Chelsea
(Pict: theathletic.com)

Pemicu dipecatnya Lampard bukan hanya itu saja, rentetan hasil buruk dibeberapa pertandingan membuat manajemen meradang, apalagi posisi diklasemen sementara jauh dari kata ideal, membuat posisi Lampard dari minggu ke minggu terus terdesak. Hingga akhirnya berita pemecatan itu datang dan menjadi kenyataan.

Chelsea memang dikenal akrab dengan pemecatan pelatih ditengah jalan. Sejak dibawah kepemilikan Roman Abramovich, klub asal London ini kerap memecat pelatih walau terhitung sang pelatih belum lama dalam mengemban tugasnya, sebut saja seperti Carlo Ancelotti, Rafael Benitez, Antonio Conte, dan Jose Mourinho. Jika dibandingkan dengan tim big six di Inggris, Chelsea menjadi tim yang paling banyak melakukan pemecatan terhadap pelatih yaitu sebanyak 21 kali.


Walau dibebani dengan ekspektasi tinggi dan bayangan pemecatan yang tak menentu, Chelsea tetaplah tim besar yang mampu memikat pelatih papan atas untuk datang. Kebanyakan dari mereka malah merasa tertantang dengan kondisi yang demikian. Suasana London yang merupakan pusat kota di Inggris dan juga di dunia menjadi keinginan banyak orang untuk memiliki kehidupan yang baik dan berkarir disana.

Tak butuh waktu lama bagi Chelsea untuk mencari sosok pengganti sang legenda, mereka akhirnya menunjuk Thomas Tuchel sebagai pelatih kepala. Sebelumnya Tuchel juga mengalami nasib yang sama dengan Frank Lampard karena ia dipecat oleh Paris Saint Germain beberapa bulan lalu yang kini perannya digantikan oleh Mauricio Pochettino. Walaupun begitu, tak lama ia langsung mendapatkan tawaran yang tidak kalah bagusnya.

Bagi Chelsea, ini pertama kalinya mereka mendatangkan pelatih berkebangsaan Jerman, dan bagi Tuchel sendiri, ini adalah kesempatan pertamanya melatih di salah satu liga terbaik di dunia. Premier League cukup akrab dengan pelatih asal Jerman, Felix Magath-lah yang mengawalinya dengan melatih Fulham pada tahun 2014 lalu, lalu disusul Jurgen Klopp bersama Liverpool pada tahun 2015, Daniel Farke dengan Norwich pada tahun 2017, dan Jan Siewert bersama Huddersfield Town pada tahun 2019.

Thomas Tuchel, Chelsea, Thiago Silva
(Pict: SI.com)

Kedatangan Tuchel ke Stamford Bridge diharapkan dapat membenahi kondisi tim yang sedang tidak dalam performanya. Ia diharapkan mampu mengembalikan semangat tim dan memperbaiki posisi di klasemen sementara. Harapan tinggal harapan, sebenarnya apa yang bisa ditawarkan oleh Tuchel untuk dapat mengembalikan Chelsea menjadi tim yang disegani di Inggris lagi?

Jerman dikenal sebagai negara penganut filosofi sepakbola menyerang yang agresif, kaya akan taktik, dan berteknik tinggi. Hal inilah yang menjadi ciri khas pelatih asal Jerman, termasuk Thomas Tuchel. Ia mengawali karir kepelatihan seniornya di Mainz dan mampu membawa tim yang baru promosi ini stabil di Bundesliga dalam beberapa musim. Dimusim kedua setelah promosi Tuchel bahkan berhasil membawa timnya finish di zona Europa League. Saat itu Mainz berada diurutan ke-5 sebagai tim yang paling produktif dengan torehan total 49 gol. Kombinasi André Schürrle dan Sami Allagui cukup mematikan dimana masing masing mencetak 14 dan 10 gol.

Tak hanya di Mainz, tim yang pernah ditanganinya seperti Borrusia Dortmund dan Paris Saint Germain juga mengadopsi gaya permainan yang sama. Dua musim di Dortmund, rataan gol permusimnya mencapai 77 gol, dan dua musim di Paris Saint Germain, rataan gol permusim mencapai 90 gol. Catatan tersebut memang tidak menjamin hal yang sama akan terjadi di Chelsea, karena kondisi persaingan dan komposisi tim yang berbeda. Namun hal ini mengisyarakatkan bahwa Chelsea akan tampil lebih menyerang dan potensi untuk mencetak gol akan semakin terbuka lebar.

Chelsea sudah menjalani dua pertandingan bersama Tuchel dan perbedaan cukup jelas terlihat dimana Chelsea bermain ofensif dan lebih sering untuk melakukan umpan progresif ke area pertahanan lawan. dari dua pertandingan tersebut, tercatat mereka mampu melepaskan 32 kali umpan kunci, dan 33 tembakan dengan rincian 13 yang mengarah ke gawang dan 14 meleset dari sasaran. Sayangnya, hanya dua yang akhirnya berbuah menjadi gol.

Dari segi formasi, Tuchel menempatkan tiga bek tengah, di dukung oleh dua wing-back yang responsibel dalam urusan bertahan dan menyerang. Kemudian ditengah di tempati oleh dua gelandang, salah satunya lebih memiliki kebebasan untuk beroperasi di sepertiga area lawan ketika sedang dalam keadaan menyerang, dan yang satunya bertugas menjaga kedalaman. Kemudian di depan di isi oleh satu penyerang tunggal didukung oleh dua gelandang serang yang bergerak bebas untuk mencari ruang.

Chelsea, Thomas Tuchel
Hudson-Odoi dan Marcos Alonso sebagai wing-back berperan penting membantu serangan dari kedua sisi sayap

Dari dua pertandingan jelas terlihat bahwa wing-back akan memiliki peran vital dalam sistem permainan Tuchel. Callum Hudson-Odoi terlihat sangat menikmati peran barunya disisi kanan sebagai wing-back. Walau posisi aslinya adalah penyerang sayap, kepiawaiannya dalam bertahan patut untuk diapresiasi. Kecepatannya disisi sayap kanan kerap memberikan masalah bagi barisan pertahanan lawan. Sejak kedatangan Tuchel, Hudson-Odoi menjadi pemain yang paling menonjol penampilannya diantara yang lain. Ia terus bergerak, mencari dan membuka ruang bagi rekannya di lini depan.

Selain menyerang wing-back juga harus piawai dalam bertahan. Butuh pemain yang memiliki kemampuan sama baiknya untuk mengisi pos tersebut. Mungkin itulah sebab mengapa Marcos Alonso yang terakhir kali bermain sejak bulan september lalu kembali dipercaya untuk mengisi pos wing-back kiri. Alonso telah membuktikan bahwa ia memang memiliki kapasitas sejak era Antonio Conte.

Kedatangan Tuchel juga diharapkan mampu membangkitkan performa pemain yang baru di datangkan di jendela transfer musim panas, Timo Werner dan Kai Havertz. Hingga pertengahan musim, keduanya masih belum memberikan dampak berarti di lapangan, Timo Werner baru mencetak 4 gol dan 4 asis, sementara Havertz baru mencetak 1 gol dan 2 asis. Sangat berbanding terbalik ketika keduanya masih bermain di Jerman.

Kai Havertz, Timo Werner, Chelsea


Faktor adaptasi menjadi salah satu dari sekian penyebab menurunnya penampilan mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa selain teknik, faktor fisik juga menjadi fokus penting untuk dapat bersaing di Inggris, hal ini terlihat dibeberapa pertandingan keduanya masih belum terbiasa dengan tekanan fisik dengan intensitas tinggi dari lawan. Tuchel harus bisa menuntun keduanya untuk menemukan kepercayaan dirinya kembali, apalagi sesama orang Jerman setidaknya lebih mempermudah dalam urusan komunikasi, baik di luar maupun ketika memberikan instruksi di dalam lapangan.

Dengan filosofi menyerang yang dimiliki, diharapkan membuat proses adaptasi gaya bermain tidak membutuhkan waktu yang lama, dan pemain bisa segera nyetel dengan apa yang diinginkan. Melihat di dua pertandingan awal rasanya sudah memberikan sebuah progres positif, walau memang masih banyak kekurangan dan pekerjaan yang harus diselesaikan dibenahi lagi.

Rasanya, akan menjadi sebuah perjalanan yang panjang bagi Thomas Tuchel di kota yang dikenal sebagai kota mode di dunia, selain Milan dan New York.


4/21/20

Meniru Semangat Dan Gairah Sepakbola Lille

Oleh : Ary Ditio Baihaqi (@arybaihaqi_10)

Perancis dikenal sebagai negara yang artistik, pelopor dunia mode ternama, dan negara yang kaya akan sejarah peradaban eropa klasiknya. kebanyakan orang ketika mendengar nama Perancis pasti akan teringat dengan megahnya menara Eiffel yang sering diasosiasikan sebagai tempat yang romantis bagi sebagian orang.

Lille Ligue 1 PSG
(pict: IG 'losclive')

Jika bicara soal sepakbolanya, pemain-pemain asal Perancis identik dengan skill dan gaya permainannya yang elegan. mereka merupakan salah satu yang terbaik di dunia. sejak dulu, banyak klub-klub elit Eropa yang menggunakan jasa para pemain Perancis dan menjadi andalan, bahkan beberapa diantaranya menjadi seorang legenda. sebut saja seperti Zinedine Zidane di Real Madrid, David Trezeguet di Juventus, Thierry Henry di Arsenal, dan masih banyak lagi. Namun, kepopuleran para pemain asal Perancis ini tidak diimbangi dengan kepopuleran kompetisi sepakbolanya. Liga Perancis atau yang biasa disebut Ligue 1, tidaklah sepopuler jika dibandingkan dengan liga-liga lain di Eropa, seperti Liga Primer Inggris, Serie A Italia, dan La Liga Spanyol.

Beberapa hal menjadi penyebabnya, salah satunya bahwa banyak orang merasa kalau Ligue 1 saat ini hanya dikuasai oleh satu klub saja yang berasal dari kota Paris, yaitu Paris Saint Germain. sehingga, persaingan untuk memperebutkan posisi juara selalu tidak pernah berubah. terhitung sejak musim 2012/13 (kecuali musim 16/17) PSG tak tergoyahkan dan selalu menjadi juara. bandingkan dengan Liga Primer Inggris, dimana klub seperti Leicester City bisa menjadi juara, diantara tim-tim yang kaya raya dengan materi pemain kelas dunia.

Terlepas dari itu, faktanya, disetiap musim diberbagai kompetisi selalu menghadirkan tim yang sebelumnya tidak diperhitungkan sama sekali ternyata mampu tampil diluar ekspektasi dan tiba-tiba berada dipapan atas klasemen. di Perancis sendiri, hal itu pernah terjadi. dimusim 2011/12, siapa sangka Montpellier akan keluar sebagai juara, jika dilihat dimusim sebelumnya mereka bahkan hanya menempati urutan 14 klasemen akhir.

Lille Ligue 1 PSG

Semusim sebelum Montpellier menjadi juara, ada tim yang sebelumnya tak diperhitungkan juga, namun akhirnya keluar sebagai juara diakhir musim. Klub tersebut adalah LOSC, singakatan dari Lille Olympique Sporting Club. ini menjadi gelar ketiga mereka sepanjang sejarah klub setelah terakhir kali mereka rasakan sudah sangat lama sekali, yaitu pada musim 1953/54.

Lille. sebuah kota yang merupakan prefektur dari departemen Nord, yang berada diujung wilayah utara Perancis dan berbatasan dengan Belgia. Nord merupakan departemen dengan populasi terpadat, hal ini karena Lille yang merupakan pusat segala aktivitas di Nord merupakan prefektur terbesar keempat di Perancis setelah Paris, Lyon, dan Marseille. Dikota ini juga merupakan tempat kelahiran atau tempat dimana para bintang sepakbola saat ini pertama kali menimba ilmu sepakbola, mereka adalah Raphael Varane, Nabil Bentaleb, dan Franck Ribery. Dimasa revolusi Perancis, Lille dijadikan sebagai pusat industri dan menjadi kota dengan perkembangan penduduk dan ekonomi yang cukup pesat kala itu. pada saat Perang Dunia Pertama pecah, Jerman yang melakukan serangan terhadap Perancis berhasil menduduki Lille, dan menjadikan kota tersebut sebagai tempat bernaung sementara pasukan tempurnya.

Lille Ligue Jerman Perand Dunia
Parade Militer Jerman di Lille tahun 1915 (pict: wikipedia.com)

Lille OSC mengalami perjalanan yang sangat panjang untuk bisa menjadi seperti sekarang. sebelum Perang Dunia Kedua, Lille mempunyai dua kesebelasan yang bermain dikasta teratas, Olympique Lillois dan SC Fives. keduanya menjadi representasi sepakbola kota Lille, namun Olympique Lillois lebih mengkilap sepak terjangnya dengan dengan berbagai gelar yang sempat mereka torehkan diantaranya juara Championnat de France (Ligue 1) tahun 1933, Trophee de France tahun 1936, dan berbagai gelar dikompetisi regional Nord. Pada tahun 1944 kedua klub resmi melakukan merger dan  sepakat menggunakan “Lille OSC” sebagai nama klub. tak perlu waktu lama untuk membuktikan diri, baru semusim terbentuk, mereka langsung meraih trofi juara Ligue 1 dimusim 1945/46, dan menjadi juara Coupe de France dimusim yang sama dan di dua musim selanjutnya. tahun 50’an menjadi masa kejayaan mereka walau masih tergolong sebagai klub baru.

Salah satu yang paling berjasa terhadap gemilangnya penampilan Lille OSC saat itu ialah Marceau Somerlinck. ia lahir dan besar di Lille. karir sepakbolanya juga dihabiskan disana dengan memperkuat beberapa klub, seperti SC Fivers dan EF Lille-Flanders. Somerlinck merupakan pemain dengan penampilan terbanyak untuk Lille OSC sampai saat ini dengan 428 penampilan. selama 12 musim ia berhasil mempersembahkan 2 gelar French Championship, dan 5 kali Coupe de France. ia juga beberapa kali mengenakan ban kapten dan memimpin rekan-rekannya ketika berada di lapangan.

Marceau Sommerlinck Lille Ligue 1
Marceau Somerlinck (FFF.com)

Melihat kilas balik sejarah tersebut, dengan sejumlah prestasi yang pernah ditorehkan, bisa dikatakan bahwa Lille OSC merupakan salah satu klub terbaik yang pernah ada di Perancis. walau sepeninggal era keemasan performa mereka di liga kerap naik turun, namun, warisan yang ditinggalkan tidak pernah hilang. Mereka dikenal sebagai klub yang kerap mengorbitkan para pemain muda potensial. bermain dengan menit bermain yang relatif banyak, dengan atmosfer pertandingan Ligue 1 yang cukup besar, membuat mereka tumbuh dan berkembang menjadi pemain bermental superstar. beberapa pemain yang pernah membela Lille OSC sebelum akhirnya berlabuh kebeberapa klub besar Eropa adalah Eden Hazard, Yohan Cabaye, Lucas Digne, Divock Origi, dan Salomon Kalou.

Musim lalu menjadi awal kebangkitan mereka dengan berhasil mengakhiri posisi dipapan atas klasemen Ligue 1 dan lolos ke Liga Champion. setelah di dua musim sebelumnya harus terseok-seok dipapan tengah, kini mereka kembali membangun fondasi yang kokoh untuk menghadapi kerasnya persaingan. bermaterikan pemain muda dibeberapa posisi vital seperti Victor Osimhen, Jonathan Bamba, dan Jonathan Ikone, di dukung oleh beberapa pemain senior seperti Loic Remy dan Jose Fonte, menjadi perpaduan yang ideal, setidaknya untuk kembali berada dipapan atas Ligue 1.

LOSC Lille Ligue 1 Perancis

Musim ini mereka berada diposisi keempat klasemen sementara . hasil dari 15 kali kemenangan, 4 kali seri, dan 9 kali kalah. target mereka saat ini adalah bagaimana caranya agar musim depan tetap berada di zona Eropa untuk menjaga eksistensi dan mengasah mental agar lebih kuat lagi. perjalanan mereka di Liga Champion musim ini sangat mengenaskan dengan hanya menjadi juru kunci di grup H yang dihuni oleh Valencia, Chelsea, dan Ajax.

Lille OSC adalah sebuah klub sepakbola yang hidup dengan gaya mereka sendiri. dengan filosofi yang percaya penuh terhadap eksistensi pemain muda, serta tidak bersentuhan dengan segelontoran uang yang banyak, mereka tetap hidup dan bertahan sebagai salah satu kesebelasan terbaik yang ada di Perancis. Hingga kini dan seterusnya, mereka tetap akan memegang erat histori, dan terus berkembang sebagai sebuah klub sepakbola yang menjadi kebangaan kota Lille.


4/05/20

Zinedine Zidane, Terbaik Sebagai Pemain Dan Juga Pelatih?

Oleh : Ary Ditio Baihaqi (@arybaihaqi_10)

Sebagai Pesepakbola, tidak ada di dunia ini yang meragukan sedikitpun kehebatan seorang Zinedine Zidane. di dalam lapangan, ia bagaikan Orkestrator yang mengkreasikan alur permainan berdasarkan imajinasinya. semua gerak geriknya bersama si kulit bundar seakan tidak ada yang sia-sia dan memiliki makna. keindahan yang tidak akan pernah anda temukan di olahraga manapun selain sepakbola.

Zinedine Zidane Real Madrid Perancis

Sebagai seorang pemain, Zidane sudah barang tentu merupakan aktor penting, baik bagi klub, maupun tim nasional Perancis. Piala Dunia 1998 menjadi saksi sejarah atas kehebatan pemain yang akrab dengan sapaan zizou ini. dua golnya ke gawang Brazil yang bermula dari skema sepak pojok sekaligus menghantarkan tim ayam jantan menjuarai turnamen akbar empat tahunan tersebut, dan menjadi gelar perdana mereka semenjak keikutsertaan yang pertama pada tahun 1930. Karir sepakbolanya ia habiskan bersama dua kesebelasan besar Eropa, Juventus dan Real Madrid. disana ia berhasil membawa tim yang ia bela masing-masing meraih gelar hampir disetiap musimnya. berbagai gelar individual juga banyak berdatangan menghampiri, salah satunya tiga kali penghargaan FIFA Player Of The Year pada tahun 1998, 2000, dan 2003.

Perjalanan karir sepakbolanya yang fenomenal membuat banyak orang menjadikannya sebagai panutan dan inspirasi. tak terkecuali dari kalangan para pesepakbola dimasa sekarang. gelandang serang timnas Belgia, Eden Hazard menjadi orang yang paling mengagumi sosok Zinedine Zidane. Hazard bahkan mengakui jika gaya permainannya saat ini banyak meniru sang mega bintang asal Perancis itu ketika masih aktif sebagai pesepakbola. Bahkan, keberadaan Zidane di Real Madrid sebagai pelatih menjadi salah satu alasan terbesar baginya untuk pindah dari Chelsea dan bergabung dengan El Real diawal musim ini.

Zidane Real Madrid La Liga

Sosok Zidane memberikan dampak yang luar biasa dalam dunia sepakbola, bahkan hingga saat ini. Setelah mengumumkan pensiun pada tahun 2006, kiprahnya di dunia sepakbola tidak berhenti begitu saja. ia aktif menjadi bagian dari Real Madrid diberbagai bidang, salah satunya sebagai Special Adviser pada tahun 2010, bekerja sama dengan Jose Mourinho, sang pelatih kepala saat itu.

Karirnya sebagai pelatih baru dimulai empat tahun setelahnya. Zidane resmi menjadi pelatih tim B Real Madrid, Castilla. dari sinilah Zidane belajar semuanya dari awal menjadi seorang pelatih. ia menangani tim muda untuk berkompetisi dengan berbagai tim muda lainnya di seantero Spanyol. sudah banyak lulusan dari Castilla dimusim itu yang kini bermain bagi tim senior Real Madrid, seperti Alvaro Fidalgo dan Fede Valverde. ada juga sebagian yang tengah dipinjamkan dan sudah dilepas ke klub lain, seperti Martin Ödeegard, Achraf Hakimi, Raul De Tomas, Sergio Reguillon dan Mario Hermoso.

Baca Juga : Meredupnya Sang Bintang Muda Portugal, Joao Felix

Baru pada 4 Januari 2016, Zidane resmi diangkat menjadi manajer tim Real Madrid, menggantikan Rafa Benitez yang dianggap kurang berkembang dan tidak mampu bersaing dengan rival abadi, Barcelona. desakan dari para pendukung juga menjadi faktor utama mengapa Rafa Benitez angkat kaki lebih cepat dari masa kontraknya. Diawal masa kepemimpinan Zidane semua berjalan dengan baik. rentetan hasil positif dicatatkan oleh Real Madrid di La Liga, salah satunya mengalahkan Barcelona di Camp Nou dengan skor akhir 1 - 2, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema masing-masing membubuhkan satu gol ke gawang Claudio Bravo. Selalu menjadi sebuah kebanggaan jika Real Madrid atau Barcelona bisa saling mengalahkan dikandang rival. di dalam ajang apapun.

Puncaknya, diakhir musim tersebut, Real Madrid berhasil menjuarai Liga Champion setelah difinal berhasil mengalahkan tim sekota, Atletico Madrid. pertandingan yang berjalan alot itu harus ditentukan hingga perpanjangan waktu, sebelum akhirnya berakhir ke babak adu penalti. di adu tos tosan Real Madrid keluar sebagai pemenang dimana lima penendang mereka berhasil mencetak gol, sedangkan dikubu Atletico Madrid, Juanfran gagal menyarangkan tendagannya dengan baik ke gawang Keylor Navas. ini menjadi gelar Liga Champion kesebelas bagi tim asal ibukota Spanyol tersebut.

Selama menangani Real Madrid, total Zidane telah mengemas 10 trofi, 3 diantaranya yang paling fenomenal 3 kali berturut-turut menjuarai Liga Champion, yaitu dimusim 15/16 hingga musim 17/18. Zidane menjadi salah satu dari tiga pelatih yang mampu menjuarai Liga Champion sebanyak 3 kali, bersama dengan Bob Paisley dan Carlo Ancelotti. bedanya, Zidane hanya membutuhkan waktu 2,5 musim untuk melakukannya, ketimbang Bob Paisley yang membutuhkan waktu 9 tahun, dan Carlo Ancelotti sebanyak 22 tahun.

Real Madrid Zidane UCL

Real Madrid menjadi kesebelasan yang paling banyak mengoleksi trofi Liga Champion dengan total 13 trofi, lebih banyak 6 trofi dibandingkan dengan AC Milan yang berada diposisi kedua. Dengan sederetan piala bergengsi tersebut, seharusnya sudah otomatis bisa dikatakan bahwa Zidane merupakan salah satu pelatih terbaik di dunia saat ini. tidak banyak pelatih yang bisa menyamai catatan gelar miliknya bersama dengan Real Madrid. terlebih ia melakukannya hanya dalam waktu yang singkat, yaitu hanya 2,5 tahun saja. Kegemilangannya sebagai pemain diikuti dengan kegemilangannya sebagai pelatih.

Tetapi, hingga saat ini, masih banyak orang yang menaruh keraguan terhadapnya, tentang apakah Zidane benar-benar bisa dikatakan sebagai pelatih yang hebat, sama dengan julukan yang disematkan kepadanya semasa menjadi pemain dulu. Lantas, benarkah sebagai pelatih, Zidane sama hebatnya sebagai seorang pemain?

Jika dibandingkan dengan pendahulunya, seperti Jose Mourinho, Zidane memiliki pencapaian yang lebih baik. dari segi perolehan trofi, Zidane jelas lebih banyak ketimbang Mourinho yang selama 3 musim di Bernabeu hanya bisa mempersembahkan 3 trofi. Dari 149 pertandingan, Zidane hanya mengalami 16 kekalahan, 104 menang, dan 29 seri. sedangkan Mourinho, dari 178 pertandingan, menelan 22 kekalahan, 128 kemenangan, dan 28 seri. Zidane menjadi pelatih Real Madrid dengan persentasi kekalahan terkecil, yakni hanya 11.5%.

Dibawah asuhan Zidane, Real Madrid tampil dengan filosofi menyerang. mengandalkan trio BBC (Bale, Benzema, Cristiano Ronaldo) yang saat itu menjadi salah satu trio paling berbahaya di Eropa. ditopang oleh dua gelandang kreatif, Luka Modric dan Toni Kroos, mereka benar-benar mampu menguasai Eropa, bahkan dunia. Tidak ada yang meragukan kekuatan skuat Real Madrid asuhan Zidane kala itu. dan perlu diakui, bahwa, Real Madrid saat itu merupakan tim sepakbola terbaik yang pernah ada dalam sejarah. Kemudian masalah datang ketika Cristiano Ronaldo pergi meninggalkan Real Madrid dan memilih untuk bergabung dengan Juventus. terjadi perubahan signifikan dikubu Real Madrid. satu yang sangat terlihat dan menjadi perbedaan yang besar adalah, hilangnya sisi produktivitas tim.

Zidane Real Madrid Cristiano Ronaldo

Terjadi perubahan yang mencolok, dimana hingga pertandingan terakhir La Liga dimainkan, Real Madrid hanya mampu mengemas 49 gol dari 27 laga. belum lagi menurunnya performa beberapa pemain kunci, salah satunya Gareth Bale dan Luka Modric, sehingga Real Madrid sering kehilangan poin-poin penting.

Disini bisa terlihat bahwa kemampuan Zidane untuk kembali membangkitkan performa timnya belum begitu baik. Kehilangan Cristiano Ronaldo benar-benar sangat krusial, namun bukan berarti tidak bisa sama sekali dicari penggantinya, karena tidak ada pemain yang lebih besar dari klubnya. hal ini yang belum diselesaikan sepenuhnya oleh Zidane. ia terlalu mengandalkan satu pemain, dan ketika Cristiano Ronaldo akhirnya hengkang, praktis komposisi dan skema tim jadi berantakan.

Kedatangan beberapa pemain yang diproyeksikan untuk menggantikan sosok Ronaldo hingga saat ini terbukti belum bisa memberi kontribusi sesuai dengan ekspektasi. Eden Hazard yang didatangkan dari Chelsea performanya sangat mengecewakan. Ia malah lebih sering bolak balik ruang perawatan karena sering mengalami cedera. Walaupun penampilan Rodrygo dan Vinicius Junior terbilang cukup menjanjikan, namun belum bisa untuk menggantikan peran yang sebelumnya diemban oleh Ronaldo. rasanya terlalu berat bagi anak-anak muda yang belum lama menetap di Eropa ini untuk segera mengambil peran dan bertanggung jawab dengan posisi sepenting itu.

Sebagai pemain, Zinedine Zidane adalah sosok sakral yang tidak bisa dilepaskan dari gaya permainan yang indah nan ajaib. ia adalah salah satu pemain terbaik di masanya. namun, untuk urusan melatih kesebelasan, ia harus melakukan pembuktian dengan keluar dari zona nyaman dan mengambil tantangan yang lebih beresiko. salah satunya ya dengan membangkitkan kembali Real Madrid tanpa seorang Cristiano Ronaldo..


2/21/20

Martin Braithwaite, Bentuk Kepanikan Barcelona

Oleh :  Ary Ditio Baihaqi  (@arybaihaqi_10)

Masa Transfer musim dingin memang sudah berakhir beberapa minggu lalu. Seluruh tim khususnya di Eropa sudah bersih-bersih dan bersiap kembali untuk menghadapi putaran kedua Liga masing-masing. Berbagai alasan menjadi dasar mengapa mereka harus repot lagi mendatangkan pemain baru. Yang paling menarik perhatian, tentu saja kedatangan Bruno Fernandes ke Manchester United setelah kabarnya hanya sebatas hembusan isu belaka.

Martin Braithwaite Barcelona
(pict: fcbarcelona)

Dan yang terbaru kali ini datang dari tim raksasa asal Spanyol, FC Barcelona, yang resmi mendatangkan Martin Braithwaite dari Leganes dengan mahar 18 Juta Euro. Wajar jika banyak orang yang belum mengetahui namanya, karena sepanjang karir sepakbolanya belum pernah ia memperkuat tim dengan nama besar seperti Barcelona.

Kedatangan Braithwaite juga tak lepas dari situasi darurat yang kini tengah melanda kubu Barcelona dimana beberapa pemainnya mengalami cedera, seperti Ousmane Dembele dan Luis Suarez. Hal itu yang mendasari kenapa Barcelona diperbolehkan untuk mendatangkan pemain baru diluar masa transfer yang berlaku.

Baca Juga : Meredupnya Sang Bintang Muda Portugal, Joao Felix

RFEF menerapkan sebuah aturan baru dimana sebuah tim diperbolehkan untuk mendatangkan pemain jika salah satu pemain dari timnya mengalami cedera yang harus memaksa si pemain absen dalam waktu yang lama atau lebih dari 5 bulan. Aturan ini juga hanya memperbolehkan sebuah tim untuk mendatangkan pemain yang hanya terdaftar di Liga Spanyol saja. Sebelum menjatuhkan pilihan pada Braithwaite, Barcelona sempat dihubungkan dengan beberapa penyerang La Liga lainnya seperti Willian Jose, Loren Moron dan Inaki Williams. Namun tidak ada yang pada akhirnya mencapai kesepakatan secara resmi.

Braithwaite mengikuti jejak para pendahulunya seperti Allan Simonsen, Michael Laudrup, Ronnie Ekelund, dan Thomas Christiansen sebagai orang Denmark yang pernah membela panji klub asal Catalan dalam rentang tahun 90an. Kedatangan Martin Braithwaite tentu mengundang tanda tanya besar bagi para pendukung Blaugrana, entah itu mengenai sepak terjangnya sebelum resmi berseragam Barcelona atau catatan statistik penampilannya selama memperkuat tim-tim sebelumnya.

Sebagai seorang penyerang, Braithwaite bukanlah pemain yang sebenarnya bisa diharapkan untuk konsisten mencetak gol demi gol disetiap pekannya. Statistik mencatat bahwa dalam satu musim ia tidak pernah mencetak gol lebih dari satu digit, yang artinya, produktivitas golnya sangat minim. Terlebih, ia lebih sering bermain bersama tim-tim medioker dan tidak memiliki pengalaman bersama dengan kesebelasan ternama. Musim terbaiknya ia catatkan kala berseragam FC Toulouse dalam rentang musim 2013 hingga 2017, dimana saat itu dari 136 penampilan ia berhasil mencetak 35 gol dan menjadi andalan bagi lini serang FC Toulouse saat itu.

Braithwaite Barcelona Toulouse
Braithwaite saat memperkuat Toulouse FC (pict: lequipe.fr)

Namun setelah pergi dari Toulouse karirnya tidak berkembang, ia tidak mampu untuk menarik perhatian tim-tim besar dan karirnya lebih banyak dihabiskan sebagai pemain pinjaman. Tercatat ia pernah menjadi bagian dari Bordeaux dan Leganes sebagai pemain pinjaman dari Middlesbrough. Disana, penampilannya pun tidak begitu istimewa, sebelumnya akhirnya dimusim 2019/2020 Leganes resmi mempermanenkannya setelah melewati masa peminjaman selama satu musim.

Kedatangan Braithwaite yang diluar dugaan bukan kali ini saja pernah dilakukan oleh Barcelona, sebelumnya yang terbaru mereka juga pernah mendatangkan seorang Kevin Prince Boateng pada awal tahun lalu dengan status pinjaman dari Sassuolo. Kedatangannya benar-benar tidak diperkirakan, sebelum akhirnya pemain berkebangsaan Ghana itu gagal memberikan impresi dan hanya mampu tampil sebanyak 3 pertandingan saja secara keseluruhan.

Nyatanya, hingga kini sudah banyak pemain yang datang ke Barcelona sebelum Braithwaite dan diprediksi bakal menuai sukses besar, tapi pada akhirnya malah gagal dan tersisihkan. Philipe Coutinho jadi contoh nyata atas kejadian itu. Didatangkan dengan mahar yang sangat besar, yakni 145 juta euro, namun penampilannya tidak sebanding dengan harganya. Coutinho kesulitan untuk menyatu dengan Lionel Messi dan kolega yang membuat permainnya tidak maksimal dan berkembang. Sebelum akhirnya dipinjamkan ke Bayern Munich musim ini, total Coutinho telah memperkuat Barcelona sebanyak 52 pertandingan dengan torehan 13 gol.

Kemudian ada Malcom yang juga senasib dengan Coutinho. Sebelum direkrut Barcelona pada musim 2018/2019, Malcom memperkuat kesebelasan yang bermain di Ligue 1 Perancis, Bordeaux. Disana ia mampu tampil luar biasa hingga menarik perhatian sejumlah klub Eropa, salah satunya Barcelona.

Coutinho Malcom Braithwaite Barcelona
Coutinho dan Malcom gagal memberikan penampilan terbaik untuk Barcelona

Untuk mendapatkan Malcom Barcelona bahkan sampai harus bersitegang dengan AS Roma, tim yang sudah lebih dulu mencapai kesepakatan dengan Malcom, sebelum akhirnya sang pemain lebih tertarik untuk pindah ke Barcelona dan kesepakatan dengan AS Roma pun batal terlaksana. Di Barcelona Malcom benar-benar gagal total. Ia gagal bersaing dengan para bintang lainnya seperti Lionel Messi, Luis Suarez. Dan juga Philippe Coutinho. Ia jarang mendapat tempat disebelas utama dan lebih sering dicadangkan. Pemain muda asal Brazil ini hanya mencatatkan 15 penampilan dan mencetak 1 gol selama semusim membela Barcelona. Kini ia melanjutkan karirnya bersama Zenit St. Petersburg setelah pada awal musim ini akhirnya ia dilepas oleh Barcelona.

Barcelona memang menjadi daya tarik bagi seluruh pesepakbola diseluruh dunia. Bermain untuk Barcelona seolah menjadi impian paling besar. Tak terkecuali bagi Braithwaite. Walau menjanjikan kebanggaan tiada tara dan potensi menjadi juara yang besar disetiap musimnya, namun untuk menjadi bagian dari Barcelona secara utuh bukanlah hal yang mudah. Berbagai tekanan yang muncul yang menuntut setiap pemain untuk tampil “hebat” disetiap minggu adalah hal yang mengerikan bagi pemain yang memang “belum” siap untuk menghadapinya.

Braithwaite Barcelona La Liga
Kesempatan bagi Braithwaite untuk membuktikan diri di Barcelona (pict: soccratesimage/gettyimages)

Para supporter siap untuk mencela, dan memaki andai sang pemain bermain tidak sesuai dengan keinginan mereka. Selain harus fokus untuk tampil bagus disetiap pertandingan, pemain juga harus siap untuk bersaing memperebutkan sebelas utama terlebih dulu. Yang artinya, bahkan persaingan ketat telah muncul bahkan diantara rekan sendiri.

Bagi Barcelona, sebenarnya menjadi sebuah kerugian karena mereka tidak memanfaatkan akademi sepakbola mereka sendiri yang terkenal menelurkan banyak bakat hebat, La Masia. Belakangan banyak orang mempertanyakan mengapa Barcelona tidak lagi mempercayai timnya di isi oleh alumni La Masia. Saat ini praktis hanya Ansu Fati lulusan La Masia yang baru-baru ini mampu mendobrak tim utama dan mendapat waktu bermain reguler, sementara yang lainnya tersisihkan. Hal ini pun diamini oleh sang legenda klub asal Brazil, Rivaldo, yang menyayangkan keputusan Barcelona untuk tidak memanfaatkan La Masia dengan sebaik-baiknya dan malah memilih untuk mendatangkan banyak pemain baru.

Walau kini banyak yang meragukannya, bukan berarti Braithwaite akan segera menyusul para pemain yang terlebih dulu gagal memberikan kontribusi di Barcelona. Ini adalah saat yang tepat baginya untuk membuktikan kepada semua yang meragukannya dengan memberikan penampilan terbaik. Karena maksud kedatangannya kali ini adalah untuk menggantikan pemain yang akan absen, artinya kesempatan untuk bermain akan terbuka lebar, dan saat itulah Braithwaite harus menunjukan kapasitasnya dan menunjukan kepada dunia bahwa ia layak berseragam Blaugrana dan mewujudkan impiannya itu.


9/05/19

Pojok Taktik : Icardi Datang, PSG Makin Garang

Oleh :  Ary Ditio Baihaqi  (@arybaihaqi_10)

Penutupan bursa transfer musim panas tahun ini memunculkan satu berita perpindahan pemain yang menarik untuk di perbincangkan. Penyerang asal Argentina, Mauro Icardi resmi memperkuat tim raksasa ibukota Perancis, Paris Saint Germain, setelah di datangkan dari Inter Milan dengan status pinjaman dengan opsi pembelian di akhir musim.

Mauro Icardi Inter PSG

Kepindahannya ke PSG tentu saja akibat hubungannya yang tidak harmonis dengan tim lamanya, Inter Milan dan telah mencapai puncaknya di awal musim ini ketika Conte secara terang-terangan mengatakan bahwa Icardi tidak ada dalam rencananya musim ini. Paris Saint Germain segera mengambil langkah cepat dan akhirnya berhasil mengamankan tanda tangan mantan pemain akademi La Masia Barcelona tersebut.

Baca Juga : Melihat Pesona Sepakbola Belanda Dari Willem II Tilburg

Kontribusi Icardi bersama Inter Milan juga menurun jika dibandingkan dengan dua musim lalu, dimana di dua musim lalu ia mencatatkan 29 gol dari 34 pertandingan di Serie A, cukup berbanding terbalik di musim selanjutnya dimana ia hanya bisa mencatatkan 11 gol dari 29 pertandingan. Kedatangan pelatih baru, Antonio Conte juga jadi salah satu faktor hengkangnya Icardi karena Conte lebih menyukai gaya main Romelu Lukaku, apalagi dengan baru datangnya Alexis Sanchez yang semakin mempertipis peluang Icardi untuk mendapat menit bermain yang ideal.

Mauro Icardi Inter Milan PSG

Keputusannya untuk pindah ke PSG merupakan sebuah langkah yang tepat. Selain untuk mendapatkan menit bermain yang lebih banyak, di Perancis bisa jadi kesempatan besar baginya untuk mengembalikan performa terbaik dengan harapan bisa mendapat tempat di skuat timnas Argentina. Apalagi sekarang PSG sedang dalam kondisi darurat karena beberapa pemain utama seperti Edinson Cavani, Kylian Mbappe, dan Neymar kini sedang mengalami cedera, kemungkinan besar Thomas Tuchel akan segera memberikan penampilan debut dalam waktu cepat untuk Icardi.

Di pekan terakhir kala bertemu FC Metz, PSG menang dengan skor akhir 2 – 0. Bermain dikandang lawan, PSG menguasai jalannya pertandingan selama 90 menit dengan catatan 69% penguasaan bola. Beberapa pemain lapis diturunkan untuk mengakali absennya pemain utama, seperti Choupo-Moting dan Pablo Sarabia, di lini tengah ada Adil Aouchiche yang dicoba untuk menemani Verratti dan Gueye, serta Colin Dagba, pemain muda yang mulai bisa menggantikan posisi Thomas Meunier di fullback kanan.

Untungnya para pemain pelapis yang diturunkan ini mampu tampil impresif, seperti Choupo-Moting yang sudah mencetak 3 gol dari 2 penampilannya.

PSG Mauro Icardi Formasi
Formasi PSG vs FC Metz

Kehadiran Icardi semakin menambah variasi lini serang PSG. Tuchel kini memiliki opsi lain jika seandainya Cavani mengalami cedera atau tidak sedang dalam performa terbaik, bisa juga ia memasang keduanya jika dalam keadaan terdesak, dengan mengorbankan satu posisi ditengah, sehingga formasi berubah menjadi 4-2-2-2 atau 4-2-4, Herrera bisa di duetkan dengan Verratti untuk menguasai lini tengah dan mengantisipasi potensi serangan balik lawan. Navas dengan pengalamannya jadi opsi utama dipos penjaga gawang, bisa di lihat di alternatif formasi pertama.

Alternatif formasi kedua kemungkinan bakal digunakan juga untuk menjaga keseimbangan dan mempertahankan penguasaan bola. Draxler di mainkan di tengah karena ia memiliki visi permainan yang bagus dan bisa mengatur serangan dengan baik. Di bantu Verratti yang memiliki mobilitas yang sangat baik, sementara Gueye bertugas untuk menjaga kedalaman dan mengendalikan tempo permainan. Disini Icardi akan menjadi penyerang tengah menggantikan Cavani, diapit oleh Mbappe dan Neymar di sisi sayap. Kedua bek sayap juga akan lebih sering maju untuk membantu penyerangan dan membantu tim untuk bermain lebih melebar.

PSG Formasi Mauro Icardi
Alternatif Formasi PSG 1

PSG Formasi Mauro Icardi
Alternatif Formasi PSG 2

Musim ini, Tuchel tidak perlu khawatir karena timnya memiliki kedalaman skuat yang luar biasa, ini di lakukan sebagai langkah persiapan menghadapi Liga Champion dan ambisi besar mereka untuk mencoba mendatangkan trofi tersebut ke kota Paris. Jadi rasanya semua pemain yang di daftarkan disini akan memiliki jam terbang yang merata. Di bawah ini merupakan susunan formasi dari pemain lapis PSG, bisa di lihat bagaimana kedalaman skuat tim ini.

Formasi PSG Mauro Icardi
Tim Cadangan PSG

Sebelum kedatangan Icardi, potensi kekuatan menyerang PSG memang sudah sangat besar. musim lalu saja di Ligue 1 mereka mampu melesakan 105 gol dan hanya kebobolan 35 gol sepanjang musim dengan rataan kemenangan 76.32%, sementara di Liga Champion mereka mampu melesakan 20 gol dan kebobolan 12 gol, namun perjalanan mereka di Liga Champion hanya sampai babak 16 besar saja setelah dikandaskan oleh Manchester United. Tentu saja dengan hadirnya Icardi angka statistik tersebut bisa saja menjadi lebih besar, dan lini depan PSG akan menjadi lebih mengerikan lagi.

Di usia emasnya saat ini, menjadi waktu yang tepat bagi Icardi untuk bangkit dari keterpurukan. Ligue 1 bisa jadi panggung yang tepat baginya untuk bisa membuktikan diri dan mengembalikan performa terbaiknya seperti beberapa musim lalu. Jika bisa tampil konsisten, bukan tidak mungkin ia bakal dipasang sebagai penyerang utama dan kembali mendapat  tempat di timnas Argentina di kemudian hari.

PSG Thomas Tuchel Icardi Formasi
PSG bersama Tuchel akan kembali mengejar ambisi menjuarai Liga Champions

PSG akan kembali mencoba peruntungan di Liga Champion setelah bertahun-tahun gagal, dengan mendatangkan sejumlah pemain yang memiliki kapasitas diharapkan dapat membantu PSG meraih ambisi tersebut. Mereka akan menjadikan Liga Champion sebagai prioritas utama di banding dengan Ligue 1 yang selama bertahun-tahun telah mereka kuasai dengan mudah. Kini saatnya membuktikan bahwa PSG bukan hanya tim yang hebat di negeri sendiri, melainkan di Eropa juga.

Dengan skuat mewah seperti sekarang, sudah menjadi tugas Tuchel untuk membawa anak asuhnya mampu mengarungi kerasnya persaingan di Ligue 1 terlebih di Liga Champion, karena sekali lagi jika pelatih tidak jeli melihat kondisi dan situasi yang ada, pemain mahal pun tidak akan ada gunanya, suntikan motivasi dan penguatan mental para pemain menjadi faktor non-teknis yang harus dibenahi Tuchel jika tujuan mereka ingin meraih trofi Liga Champion, karena bukan hanya mereka yang mengincarnya. Bayern Munich, Barcelona, Juventus, Liverpool siap untuk menghadang.


Special Thanks to : LINEUP11


2/03/19

Sejuta Mimpi Untuk Emiliano Sala

Oleh :  Ary Ditio Baihaqi  (@arybaihaqi_10)

Beberapa bulan lalu tidak banyak yang mengetahui siapa Emiliano Sala. Kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti kompetisi tertinggi sepakbola Perancis, Ligue 1. Sala mulai mendapat perhatian lebih ketika terpilih menjadi Pemain terbaik selama bulan Oktober 2018 lalu berkat torehan 4 gol dari 3 penampilannya bersama FC Nantes. Tidak hanya itu, Sala juga sempat menjadi salah satu dari lima pemain paling produktif di 5 liga top eropa, di Ligue 1 sendiri ia menjadi pencetak gol terbanyak sementara bersanding dengan Kylian Mbappe, dengan torehan masing-masing 11 gol.

Emiliano Sala Nantes Cardiff
(Pict: @fcnantes)

Sebetulnya, potensi seorang Emiliano Sala sudah tercium oleh beberapa klub di eropa sebelum ini. Galatasaray, Wolverhampton, dan Watford dikabarkan menjadi klub yang telah melayangkan tawaran untuk Sala namun ditolak, ia juga sempat menolak untuk bermain bersama salah satu kontestan Liga Super Tiongkok. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menerima pinangan dari Cardiff City dengan mahar sebesar £15,3 juta, menjadikannya sebagai pemain termahal sepanjang sejarah bagi Cardiff City.

Emiliano Sala Cardiff City
(pict: @emilianosala9)

19 Januari 2019, Sala diresmikan sebagai pemain Cardiff City dengan durasi kontrak selama tiga setengah tahun. Merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa setelah apa yang dilewatinya sebagai pesepakbola. Tahun-tahun yang sulit akhirnya terbayarkan dengan bergabungnya ia ke salah satu klub kontestan Premier League. Sebuah kompetisi dimana diimpikan oleh seluruh pesepakbola di dunia. Setelah peresmian Sala kembali menuju kota Nantes untuk mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh rekan pemain dan staf kepelatihan, mereka mengucapkan selamat atas apa yang telah diraih oleh Sala sekarang ini. Tantangan yang lebih berat telah menantinya diranah Britania.

Emiliano Sala Nantes Cardiff
Unggahan terakhir Sala diakun Instagramnya (@emilianosala9)

22 Januari 2019, kabar buruk itu datang, dikabarkan sebuah pesawat yang terbang dari kota Nantes menuju Cardiff telah hilang kontak. Pesawat terakhir terpantau radar berada di selat Inggris, pihak kepolisian Guernsey segera melakukan pencarian terhadap pesawat tersebut. Berita ini menjadi headline diberbagai media, dan menjadi semakin gempar setelah dicek kembali, ternyata nama Emiliano Sala terdaftar sebagai salah satu penumpang yang berada di dalam pesawat tersebut.

Sampai artikel ini ditulis pihak kepolisian Guernsey telah menghentikan proses pencariannya dan tidak membuahkan hasil apapun. Keluarga Sala menyayangkan hal tersebut dan berharap pencarian terus dilakukan. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, baik dari kalangan pesepakbola berkebangsaan Argentina seperti Lionel Messi dan Sergio Aguero, dan dari pemerintah Argentina sendiri. Mereka menyumbang untuk biaya pencarian yang akan dilakukan, dan akhirnya pencarian tersebut kembali dilanjutkan. Harapan besar bahwa sebuah keajaiban akan menghinggapi Sala dan membawanya kembali pulang.

Emiliano Sala SM Caen
Sala dalam masa peminjaman bersama SM Caen (pict: uefa.com)

Tidak ada yang menyangka bahwa peristiwa ini akan terjadi. Musibah memang tidak ada yang tahu kapan datangnya. Peristiwa ini menambah daftar panjang catatan kelam kecelakaan pesawat terhadap para pesepakbola. Terlepas dari itu semua, kita selalu mengharapkan yang terbaik bagi mereka siapapun itu yang tertimpa tragedi seperti ini.

Baca Juga : Egy Maulana dan Tantangan Besar yang Menanti

Tragedi ini seolah merenggut harapan Emiliano Sala untuk mewujudkan mimpinya menjadi pesepakbola terbaik. Ditengah performanya yang tengah melonjak naik, apalagi diusia emasnya saat ini, masih banyak hal yang bisa dilakukannya sebagai seorang pesepakbola. Sala merupakan pribadi pekerja keras dan pantang menyerah dimata teman-temannya. Perjuangannya untuk menjadi seperti sekarang tidaklah datang begitu saja.

Emiliano Sala FC Nantes
(pict: foxsportasia.com)

Sempat tertatih-tatih di Perancis bahkan ditolak oleh salah satu klub kontestan Serie C Italia, menjadi pengalaman pahit yang membuat Sala terus termotivasi untuk bisa belajar. Beberapa kali ia dipinjamkan kebeberapa klub diperancis, hingga akhirnya FC Nantes datang dan memberinya kontrak permanen, ini merupakan kesempatan untuk membuktikan hasil kerja kerasnya selama ini. Hasilnya mengesankan, sejak pertama kali didatangkan Sala selalu menjadi pencetak gol terbanyak bagi klubnya selama tiga musim berturut-turut.

Sala bertransformasi menjadi pemain yang efektif ketika berada didepan gawang lawan. Menggunakan postur tubuh tinggi menjulangnya sebagai senjata utama, ia kerap memenangi duel udara. Kemampuannya mencari ruang dan insting mencetak golnya sangat baik. Sala juga cukup kuat dalam penguasaan bola, hal itu yang dikatakan oleh Claudio Ranieri yang pernah bekerja sama dengannya ketika menangani FC Nantes. “Orang-orang melihat bagaimana ia berjuang terhadap bola dilapangan, itu membuat rekannya termotivasi untuk melakukan yang hal sama. Ia merupakan contoh yang bagus untuk semua pemain yang ada disini” ungkap Ranieri. Rasio jumlah golnya bersama FC Nantes juga terus membaik, musim ini saja ia telah mencetak 12 gol di Ligue 1.

Emiliano Sala Nantes Cardiff
(pict: @fcnantes)

Yang terbaru sebuah penghormatan untuk Sala dilakukan ketika FC Nantes menjamu tamunya Saint-Etienne pada pekan ke-22 Ligue 1. Seluruh pemain FC Nantes menggunakan jersey bernamakan Sala. Pertandingan juga sempat dihentikan dimenit ke-9 yang merujuk pada nomor punggung Sala. Seluruh oarng yang ada di Stadion memberikan tepuk tangan selama satu menit penuh. Manajer FC Nantes, Vahid Halihodzic tampak terlihat menitikan air mata. Hal yang sama juga dilakukan di Premier League kala Arsenal menjamu Cardiff City dipekan ke-24. Para pemain dan seisi stadion mengheningkan cipta sebelum pertandingan dimulai.

Keputusannya untuk pindah ke Cardiff City bukanlah sebuah kesalahan, mimpinya untuk berlaga dikompetisi yang levelnya lebih tinggi bukanlah penyebab dari semua kejadian ini. Dia telah berjuang keras hingga seperti sekarang. Ia layak untuk mendapat pengakuan sebagai pemain dengan etos kerja yang luar biasa. Ketekunannya layak dijadikan sebagai panutan, tidak hanya untuk pelaku sepakbola, tapi bagi seluruh orang yang memiliki keinginan untuk sukses.