• Seperti biasa, penampilan Manchester City dibawah arahan Pep Guardiola musim ini sangat menawan. Mereka memimpin klasemen sementara Premier League dengan perolehan 59 poin, unggul 11 poin dari peringkat dua Liverpool yang baru mengumpulkan 48 poin (masih ada cadangan satu laga), dan 12 poin dari Chelsea diperingkat ketiga
  • Negeri ini tidak pernah habis akan sensasi. Semua saling sikut hanya demi sebuah gengsi, yang kulihat belakangan ini satu sama lain malah saling ingin menghabisi. Betapa sedihnya melihat kondisi negeri ini
  • Arsenal kembali menjalani tren buruk di Premier League, seolah menjadi lanjutan dari apa yang dialami musim lalu, yang membuat mereka harus rela duduk diposisi ke delapan klasemen akhir, plus kehilangan kesempatan untuk main dikompetisi tertinggi antar klub Eropa, Liga Champion untuk kesekian kalinya
  • Awalnya Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa musim lalu Chelsea yang akan keluar sebagai juara Liga Champion. Semua terjadi seakan-akan memang Chelsea sudah ditakdirkan untuk meraih trofi si kuping besar, mulai dari pembagian grup yang relatif lebih mudah, hingga jalan menuju final yang terbilang mulus tanpa hambatan
  • Emiliano Martinez menjadi salah satu nama yang paling sering berseliweran di jagat berita dan media sosial setelah keberhasilan Argentina menjadi juara Copa America 2021. Yang membuatnya menjadi bahan obrolan tentu saja berkat aksi gemilangnya sepanjang turnamen, dan bagaimana saat ia berhasil menepis tiga eksekusi penalti Kolombia yang terjadi saat babak adu penalti di semifinal
Showing posts with label Taktik. Show all posts
Showing posts with label Taktik. Show all posts

3/14/21

Apa Salahnya Menjadi Pragmatis dan Bermain Bertahan?

Oleh : Ary Ditio Baihaqi (@arybaihaqi_10)

Tujuan utama dalam sepakbola adalah untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan dan mencegah sebisa mungkin agar lawan tidak mencetak gol ke gawang kita. Untuk mencapai tujuan tersebut setiap tim harus mempertimbangkan taktik dan strategi agar dua entitas yang sakral, yaitu pertahanan dan penyerangan bisa berjalan dan bersinergi untuk meraih tujuan yang hendak dicapai, yaitu kemenangan.

Pragmatisme, Parkir Bus, Bertahan


Namun dalam praktiknya, tidak semua tim mampu menjalankan kedua unit entitas ini dengan sempurna, ada yang bagus ketika menyerang tetapi payah ketika bertahan, ada juga yang kuat dalam bertahan tetapi tidak cukup baik dalam mengorkestrakan serangannya. Disinilah fungsi dari pelatih kepala untuk menganalisa, membaca situasi, memahami kondisi dan memberikan instruksi untuk menghadapi lawan. Maka dari situ muncul sebuah pencitraan yang membedakan mana tim yang berfilosofi menyerang dan bertahan. Semua itu tak lepas dari bagaimana seorang pelatih dalam menangani timnya, yang secara tidak langsung ikut mempengaruhi citra tim tersebut.

Taktik sepakbola terus mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Dulu pernah ada masa dimana sebuah tim bermain dengan 5 penyerang, 3 gelandang, dan hanya 2 pemain belakang. Formasi ini menjadi tren hampir diseluruh tim khususnya di Eropa. Menyerang dan terus menyerang dianggap sebagai hal yang lebih penting dan diutamakan. Namun, perlahan cara main seperti itu mulai ditinggalkan (kecuali dalam keadaan terdesak) ketika sektor pertahanan mulai dianggap menjadi suatu pembeda di dalam sebuah pertandingan.

Baca Juga : Kemilau Bintang Muda Britania, Mason Greenwood

Dari awalnya muncul istilah Catenaccio di Italia yang memperlihatkan bagaimana sebuah tim mampu memperagakan sistem pertahanan yang kokoh dan sulit ditembus. Kemudian beberapa pelatih yang muncul dengan ide permainan yang tidak melulu soal menyerang, tetapi bagaimana bisa kuat ketika dihadapkan dalam situasi bertahan. Pelatih yang bisa membaca situasi dan menerapkan taktik sesuai dengan lawan yang dihadapi, hal ini kemudian disebut sebagai pragmatisme dalam sepakbola.

Catenaccio, Bertahan, Pragmatis
Ilustrasi Catenaccio yang diperagakan oleh Italia

Pragmatisme yang di identik dengan permainan bertahan (walau secara harfiah bukan begitu) sejatinya menimbulkan pro dan kontra dikalangan penonton. Ada yang merasa bahwa bermain bertahan dan hanya mengincar momentum serangan balik terasa membosankan, tidak sesuai dengan nilai inti dari sepakbola itu sendiri yaitu menghibur bagi orang yang menontonnya, juga tim yang hanya fokus menumpuk pemainnya dibelakang dinilai tidak layak untuk menang dari tim yang berusaha untuk membongkar pertahanan lawan dan berbagai anggapan miring lainnya.

Lantas apakah tim yang unggul dalam indikator menyerang bisa dikatakan lebih layak untuk selalu menang dibandingkan dengan tim yang “cuma” bertahan? Apakah gaya permainan pragmatis tidak lebih baik dari permainan yang hanya fokus untuk menyerang?

Pertama-tama kita harus memahami dulu makna dari kata pragmatis itu sendiri. Menurut Cambridge Dictionary Pragmatis adalah kualitas menangani masalah dengan cara yang masuk akal yang sesuai dengan kondisi yang benar-benar ada, daripada mengikuti teori, ide, atau aturan tetap. Artinya, Pragmatisme lebih mengutamakan praktik dalam situasi yang sebenarnya tentang apakah cara yang dilakukan untuk mengatasi suatu masalah berhasil atau tidak, daripada hanya berpegang pada teori, ide, dan segala aturan tertulis lainnya.

Jika mengarahkannya ke dalam sepakbola, Pragmatisme bisa di ilustrasikan sebagai tindakan atau respon sebuah tim terhadap apa yang diberikan oleh lawannya. Jika lawan yang dihadapi secara kualitas lebih baik dan menginisiasi untuk menyerang, maka respon terhadap apa yang dilakukan lawan adalah dengan bertahan dan berusaha semaksimal mungkin agar tidak kebobolan, karena bertahan dinilai sebagai opsi yang lebih masuk akal untuk memperbesar peluang menang diakhir laga daripada mencoba untuk frontal menyerang. Dari pengartian tersebut bisa dikatakan bahwa sepakbola pragmatis tidak selalu diartikan dengan bermain bertahan atau menumpuk seluruh pemain dibelakang. Ini hanya salah satu cara yang digunakan tim untuk memenangkan pertandingan, atau dalam skala yang lebih besar yaitu kejuaraan atau kompetisi.

Perumpamaan terbaik yang bisa diberikan adalah bagaimana perjuangan Yunani menjuarai EURO pada tahun 2004 silam. Tidak ada yang menyangka sama sekali bahwa tim sekelas Yunani saat itu, tanpa pemain-pemain hebat berkelas dunia ternyata bisa mempecundangi unggulan seperti Spanyol, Perancis, dan tuan rumah Portugal. Otto Rehhagel selaku pelatih merupakan orang yang paling berjasa untuk menjadikan sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka mimpikan itu ternyata menjadi kenyataan.

Pragmatis, Bertahan, Parkir Bis
Momen saat Angelos Charisteas mencetak gol ke gawang Portugal pada Final EURO 2004

Rehhagel sadar akan kualitas timnya yang tidak sebanding dengan lawan yang dihadapi. Yunani tidak memiliki pemain seperti Zidane atau Luis Figo yang piawai dalam mengkreasikan serangan, atau pemain seperti Van Nistelrooy atau Milan Baros yang kuat akan insting mencetak golnya. Yunani adalah tim yang pas-pasan. Dengan keadaan seperti itu apakah memaksakan dengan bermain menyerang dan berusaha untuk mencetak gol banyak-banyaknya adalah cara terbaik untuk setidaknya meraih hasil? Tentu saja tidak. Maka dari itu pendekatan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan bertahan, bermain lebih kedalam dan menunggu momen untuk menyerang balik.

Semua diputuskan berdasarkan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu, bukannya ngeyel dan keras kepala untuk tetap memaksa menyerang. Harus dilihat dulu apakah sebuah tim memiliki kapasitas untuk melakukan itu semua atau tidak, dan kalau memang dirasa tidak bisa kenapa harus memaksa supaya bisa? Oleh sebab itu kata pragmatis sering sama artikan dengan bermain bertahan karena kondisi ini sering terjadi pada tim yang mengharuskan mereka untuk bermain bertahan.

Yang ingin ditekankan disini adalah, Pragmatis itu adalah sebuah pilihan. Semua tim atau pelatih bebas untuk menentukan strategi apa yang akan digunakan untuk mendapatkan tujuannya. Itu berarti, tim yang dianggap kuat pun juga boleh untuk bermain pragmatis. Tidak ada salahnya. Terbukti Mourinho dengan filosofi dan gaya permainannya yang dinilai “membosankan” itu ternyata menyumbang banyak trofi ke beberapa tim papan atas seperti Chelsea, Porto, Real Madrid, dan Man United.

Pragmatisme, Mourinho
Mourinho yang sukses dengan filosofi Pragmatisnya

Kita tidak bisa mengatakan kalau tim yang bertahan itu tidak seharusnya meraih apapun dalam pertandingan dan memandangnya dengan hina. Bermain bertahan juga tidak kalah sulitnya dengan menyerang. Banyak hal yang harus dilakukan dan diperhatikan untuk bisa membuat sistem pertahanan yang efektif dan terorganisir. Menjaga bentuk formasi, memperhatikan pergerakan lawan, menunggu waktu yang tepat kapan untuk saatnya mengambil bola, menyusun serangan balik yang efektif, dan masih banyak detail lainnya.

Ibarat dalam sebuah medan perang, tinggal bagaimana pemimpin pasukan memutuskan untuk menggunakan senjata yang mana, senapan laras panjang atau tombak dan pedang. Tidak ada aturan yang mengekang harus menggunakan yang mana, bebas mana saja yang penting mereka yakin kalau senjata yang digunakan itu bisa untuk mendekatkan mereka kepada tujuan yang ingin dicapai. Dalam dunia sepakbola modern saat ini, saya menganggap pragmatis adalah sebuah keniscayaan. Pelatih yang dinilai sebagai idealis, nyatanya saat ini dihadapkan dengan sebuah pilihan yang mengharuskannya menyingirkan pemikirannya untuk sementara waktu.

Jurgen Klopp awalnya sangat ngotot tetap berpendirian dengan gegenpressing-nya. Namun, ternyata hal itu tidak berlangsung baik dalam periode yang lama. Untuk memperbaikinya, sekarang Liverpool tidak melulu melakukan pressing ketat dengan intensitas yang tinggi. Kalau dulu harus menang dengan skor telak, sekarang hanya selisih satu gol pun tidak masalah yang penting tiga poin aman. Terbukti Juara Liga Champion dan Premier League musim lalu adalah hasilnya.

Atau Pep Guardiola, pelatih yang dikenal identik dengan ide dan taktik menyerangnya yang ajaib ternyata merasa bahwa tidak sedikit sentuhan pragmatis yang ia berikan ke dalam timnya. "The people say ‘you have to be more pragmatic, more clinical’. More pragmatic than me? I’m sorry. Like numbers - pragmatic is numbers. When we’re talking about pragmatic we’re not talking about ‘the way’ or something to discuss about football - it’s numbers. And numbers, I am good".

Keindahan dan nilai estetik dalam sepakbola bukan hanya sekedar menyerang saja. Ada sesuatu yang banyak orang tidak mau lihat keindahan tersendiri dari seni bertahan. Kembali lagi, semua kembali kepada preferensi masing-masing dalam menikmati sepakbolanya.


9/05/19

Pojok Taktik : Icardi Datang, PSG Makin Garang

Oleh :  Ary Ditio Baihaqi  (@arybaihaqi_10)

Penutupan bursa transfer musim panas tahun ini memunculkan satu berita perpindahan pemain yang menarik untuk di perbincangkan. Penyerang asal Argentina, Mauro Icardi resmi memperkuat tim raksasa ibukota Perancis, Paris Saint Germain, setelah di datangkan dari Inter Milan dengan status pinjaman dengan opsi pembelian di akhir musim.

Mauro Icardi Inter PSG

Kepindahannya ke PSG tentu saja akibat hubungannya yang tidak harmonis dengan tim lamanya, Inter Milan dan telah mencapai puncaknya di awal musim ini ketika Conte secara terang-terangan mengatakan bahwa Icardi tidak ada dalam rencananya musim ini. Paris Saint Germain segera mengambil langkah cepat dan akhirnya berhasil mengamankan tanda tangan mantan pemain akademi La Masia Barcelona tersebut.

Baca Juga : Melihat Pesona Sepakbola Belanda Dari Willem II Tilburg

Kontribusi Icardi bersama Inter Milan juga menurun jika dibandingkan dengan dua musim lalu, dimana di dua musim lalu ia mencatatkan 29 gol dari 34 pertandingan di Serie A, cukup berbanding terbalik di musim selanjutnya dimana ia hanya bisa mencatatkan 11 gol dari 29 pertandingan. Kedatangan pelatih baru, Antonio Conte juga jadi salah satu faktor hengkangnya Icardi karena Conte lebih menyukai gaya main Romelu Lukaku, apalagi dengan baru datangnya Alexis Sanchez yang semakin mempertipis peluang Icardi untuk mendapat menit bermain yang ideal.

Mauro Icardi Inter Milan PSG

Keputusannya untuk pindah ke PSG merupakan sebuah langkah yang tepat. Selain untuk mendapatkan menit bermain yang lebih banyak, di Perancis bisa jadi kesempatan besar baginya untuk mengembalikan performa terbaik dengan harapan bisa mendapat tempat di skuat timnas Argentina. Apalagi sekarang PSG sedang dalam kondisi darurat karena beberapa pemain utama seperti Edinson Cavani, Kylian Mbappe, dan Neymar kini sedang mengalami cedera, kemungkinan besar Thomas Tuchel akan segera memberikan penampilan debut dalam waktu cepat untuk Icardi.

Di pekan terakhir kala bertemu FC Metz, PSG menang dengan skor akhir 2 – 0. Bermain dikandang lawan, PSG menguasai jalannya pertandingan selama 90 menit dengan catatan 69% penguasaan bola. Beberapa pemain lapis diturunkan untuk mengakali absennya pemain utama, seperti Choupo-Moting dan Pablo Sarabia, di lini tengah ada Adil Aouchiche yang dicoba untuk menemani Verratti dan Gueye, serta Colin Dagba, pemain muda yang mulai bisa menggantikan posisi Thomas Meunier di fullback kanan.

Untungnya para pemain pelapis yang diturunkan ini mampu tampil impresif, seperti Choupo-Moting yang sudah mencetak 3 gol dari 2 penampilannya.

PSG Mauro Icardi Formasi
Formasi PSG vs FC Metz

Kehadiran Icardi semakin menambah variasi lini serang PSG. Tuchel kini memiliki opsi lain jika seandainya Cavani mengalami cedera atau tidak sedang dalam performa terbaik, bisa juga ia memasang keduanya jika dalam keadaan terdesak, dengan mengorbankan satu posisi ditengah, sehingga formasi berubah menjadi 4-2-2-2 atau 4-2-4, Herrera bisa di duetkan dengan Verratti untuk menguasai lini tengah dan mengantisipasi potensi serangan balik lawan. Navas dengan pengalamannya jadi opsi utama dipos penjaga gawang, bisa di lihat di alternatif formasi pertama.

Alternatif formasi kedua kemungkinan bakal digunakan juga untuk menjaga keseimbangan dan mempertahankan penguasaan bola. Draxler di mainkan di tengah karena ia memiliki visi permainan yang bagus dan bisa mengatur serangan dengan baik. Di bantu Verratti yang memiliki mobilitas yang sangat baik, sementara Gueye bertugas untuk menjaga kedalaman dan mengendalikan tempo permainan. Disini Icardi akan menjadi penyerang tengah menggantikan Cavani, diapit oleh Mbappe dan Neymar di sisi sayap. Kedua bek sayap juga akan lebih sering maju untuk membantu penyerangan dan membantu tim untuk bermain lebih melebar.

PSG Formasi Mauro Icardi
Alternatif Formasi PSG 1

PSG Formasi Mauro Icardi
Alternatif Formasi PSG 2

Musim ini, Tuchel tidak perlu khawatir karena timnya memiliki kedalaman skuat yang luar biasa, ini di lakukan sebagai langkah persiapan menghadapi Liga Champion dan ambisi besar mereka untuk mencoba mendatangkan trofi tersebut ke kota Paris. Jadi rasanya semua pemain yang di daftarkan disini akan memiliki jam terbang yang merata. Di bawah ini merupakan susunan formasi dari pemain lapis PSG, bisa di lihat bagaimana kedalaman skuat tim ini.

Formasi PSG Mauro Icardi
Tim Cadangan PSG

Sebelum kedatangan Icardi, potensi kekuatan menyerang PSG memang sudah sangat besar. musim lalu saja di Ligue 1 mereka mampu melesakan 105 gol dan hanya kebobolan 35 gol sepanjang musim dengan rataan kemenangan 76.32%, sementara di Liga Champion mereka mampu melesakan 20 gol dan kebobolan 12 gol, namun perjalanan mereka di Liga Champion hanya sampai babak 16 besar saja setelah dikandaskan oleh Manchester United. Tentu saja dengan hadirnya Icardi angka statistik tersebut bisa saja menjadi lebih besar, dan lini depan PSG akan menjadi lebih mengerikan lagi.

Di usia emasnya saat ini, menjadi waktu yang tepat bagi Icardi untuk bangkit dari keterpurukan. Ligue 1 bisa jadi panggung yang tepat baginya untuk bisa membuktikan diri dan mengembalikan performa terbaiknya seperti beberapa musim lalu. Jika bisa tampil konsisten, bukan tidak mungkin ia bakal dipasang sebagai penyerang utama dan kembali mendapat  tempat di timnas Argentina di kemudian hari.

PSG Thomas Tuchel Icardi Formasi
PSG bersama Tuchel akan kembali mengejar ambisi menjuarai Liga Champions

PSG akan kembali mencoba peruntungan di Liga Champion setelah bertahun-tahun gagal, dengan mendatangkan sejumlah pemain yang memiliki kapasitas diharapkan dapat membantu PSG meraih ambisi tersebut. Mereka akan menjadikan Liga Champion sebagai prioritas utama di banding dengan Ligue 1 yang selama bertahun-tahun telah mereka kuasai dengan mudah. Kini saatnya membuktikan bahwa PSG bukan hanya tim yang hebat di negeri sendiri, melainkan di Eropa juga.

Dengan skuat mewah seperti sekarang, sudah menjadi tugas Tuchel untuk membawa anak asuhnya mampu mengarungi kerasnya persaingan di Ligue 1 terlebih di Liga Champion, karena sekali lagi jika pelatih tidak jeli melihat kondisi dan situasi yang ada, pemain mahal pun tidak akan ada gunanya, suntikan motivasi dan penguatan mental para pemain menjadi faktor non-teknis yang harus dibenahi Tuchel jika tujuan mereka ingin meraih trofi Liga Champion, karena bukan hanya mereka yang mengincarnya. Bayern Munich, Barcelona, Juventus, Liverpool siap untuk menghadang.


Special Thanks to : LINEUP11