2/23/21

Chievo dan Hellas, Mana yang Lebih Terasa Verona?

Oleh  :  Ary Ditio Baihaqi  (@arybaihaqi_10)

Di Italia, Verona bukan kota yang terkenal dengan sepakbolanya. Tetapi, sejak dulu setidaknya Verona sudah menjadi bagian dalam sejarah perjalanan sepakbola negeri pizza. Banyak hal yang bisa ditemukan disini, akan tetapi lebih banyak lagi tempat menarik untuk dijadikan sebagai tujuan rekreasi. Kota yang merupakan bagian dari regional Veneto ini memang diproyeksikan sebagai tempat untuk para turis berkunjung menyaksikan panorama kota yang khas dengan suasana abad pertengahan Italia.

Chievo, Hellas, Verona


Jika kita berbicara soal Verona, terlebih sepakbolanya, saya bisa katakan bahwa orang-orang pada masa kini lebih sering mendengar nama Chievo yang khas dengan warna kuning dominan dan sedikit sentuhan biru. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tim pertama yang membawa nama Verona di kasta tertinggi sepakbola Italia adalah Hellas. Hellas memulai perjalanan sepakbola dari kasta yang lebih tinggi, Serie B dibandingkan dengan Chievo yang memulai dari Serie C. Inilah alasan yang membuat mengapa sebenarnya nama Hellas lebih dikenal luas oleh masyarakat Verona sendiri dibandingkan dengan Chievo.

Sejak dulu bahkan pendukung Hellas selalu merasa bahwa mereka lebih baik dari rival sekotanya itu. Salah satu hal yang mengindikasikan hal ini terjadi bisa dilihat dari jumlah pendukung Hellas yang lebih banyak, karena Hellas didirikan lebih dulu dari Chievo (Hellas pada 1903, Chievo pada 1929). Kemudian Hellas berdiri dipusat kota, sedangkan Chievo berada dipinggiran kota yang jumlah penduduknya tidak begitu banyak. Dari sisi pencapaian trofi, Hellas pernah sekali merasakan menjadi juara Serie A pada musim 1984-85, sementara Chievo belum pernah sama sekali.

Derbi yang mempertemukan Chievo dan Hellas dinamakan Derby Della Scala. Nama Scala merujuk pada Scaligeri yang merupakan nama Aristokrat yang berkuasa di Verona pada abad pertengahan. Jika dibandingkan dengan Derbi lainnya di Italia, Derby Della Scala memang tidak menawarkan sesuatu untuk disaksikan. Keduanya bukan tim besar, bukan tim tradisi juara yang mengakar, dan lebih sering berkutat dikasta terbawah. Namun, yang bisa kita perhatikan dari Derbi ini adalah bagaimana perjuangan sebuah entitas minoritas untuk bersaing dengan entitas lainnya yang lebih berpengalaman, dan bagaimana sebuah hinaan menjadi sumber kekuatan yang malah berbalik menjadi senjata untuk melawan.

Pendukung Hellas pernah menabirkan hinaan kepada Chievo melalui chant yang kira-kira bunyinya “Quando i mussi volara, il Ceo in Serie A” yang jika artikan Donkeys will fly before Chievo are in Serie A. Sebegitu tidak senangnya para pendukung Hellas terhadap keberadaan Chievo hingga benar-benar tidak sudi melihat rivalnya berada diposisi yang lebih baik dari mereka. Hingga akhirnya Chievo menemukan momennya pada musim 2000-01, mereka berhasil promosi menuju kasta tertinggi Serie A untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Hinaan dari para pendukung Hellas sejatinya malah menjadi suntikan semangat bagi para punggawa Chievo. Dari peristiwa ini kemudian membuat Chievo menjadi lebih dikenal sebagai I Mussi Volanti yang artinya The Flying Donkey. Mulai saat itu performa Chievo malah lebih baik daripada Hellas yang harus terdegradasi ke Serie B. Bahkan dimusim 2005-06 Chievo berhasil menduduki posisi ke-4 klasemen akhir Serie A dan melaju ke Liga Champion. Di musim tersebut legenda sekaligus ikon kebanggaan Chievo, Sergio Pellissier menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan raihan 13 gol.


Hal itulah yang membuat mengapa generasi milenial atau orang-orang saat ini lebih mengenal nama Chievo sebagai klub asal kota Verona ketimbang Hellas. Saya pun pada awalnya hanya tahu nama Chievo saja dengan Sergio Pellessier dan Preparim Hetemaj-nya kala itu. Hingga pada momen dimana saya tahu soal Hellas ketika mereka berhasil promosi ke Serie A di musim 2013-14 dan di musim tersebut Luca Toni menjadi pencetak gol terbanyak kedua di liga dengan torehan 20 gol diusianya yang ke-37 tahun.

Pertandingan yang mempertemukan keduanya selalu menghadirkan atmosfer yang luar biasa. Stadion Marc’Antonio Bentegodi yang digunakan oleh keduanya sebagai kandang secara bersamaan akan dipenuhi oleh atribut berwarna kuning berkombinasi birunya yang khas. Jumlah pertemuan antara Hellas dan Chievo memang terhitung tidak terlalu banyak, itu karena mereka sering kali terpisah secara kasta yang otomatis membuat keduanya sulit untuk bertemu dalam sebuah laga. Total mereka telah bertemu sebanyak 19 kali dan terakhir mereka dipertemukan dalam lanjutan Serie A di musim 2017-18.

Namun layaknya sebuah laga derbi pada umumnya dengan catatan historis yang ada, membuat setiap laga yang mempertemukan kedua tim ini seperti sebuah laga yang akan menjadi pembuktian bahwa siapakah tim yang paling mewakili kota Verona saat ini. Beda halnya dengan Manchester United yang menganggap Manchester City sebagai “Tetangga yang berisik”, bahwa Hellas dari awal telah menolak keberadaan Chievo. Hellas selalu merasa yang paling pantas mewakili kota Verona, sedangkan jika dilihat dari kedua sisi Chievo juga tidak mau kalah dari “Kakak”nya. Dari sisi raihan prestasi juga tidak banyak yang bisa dibandingkan karena performa keduanya yang sering naik turun setiap musim. Saat ini Hellas berada di Serie A sedangkan Chievo di Serie B. sulit untuk mencari indikator yang dapat digunakan sebagai pembanding mana yang lebih pantas dan mana yang tidak.