2/01/21

Harapan Besar Chelsea Pada Diri Thomas Tuchel

Oleh  :  Ary Ditio Baihaqi  (@arybaihaqi_10)

Beberapa hari lalu, Chelsea baru saja mengumumkan pemecatan Frank Lampard dari jabatannya sebagai pelatih kepala. Kebersamaan yang telah terjalin selama kurang lebih satu setengah musim harus berakhir dengan tidak baik baik saja. Pihak manajemen merasa bahwa Lampard belum mampu untuk membawa tim konsisten bersaing dipapan atas, walau sebelumnya ia telah diberi kebebasan untuk mendatangkan pemain baru sesuai dengan keinginannya, yang kalau dilihat dari sisi harga, tentu saja tidak murah.

Thomas Tuchel, Chelsea
(Pict: theathletic.com)

Pemicu dipecatnya Lampard bukan hanya itu saja, rentetan hasil buruk dibeberapa pertandingan membuat manajemen meradang, apalagi posisi diklasemen sementara jauh dari kata ideal, membuat posisi Lampard dari minggu ke minggu terus terdesak. Hingga akhirnya berita pemecatan itu datang dan menjadi kenyataan.

Chelsea memang dikenal akrab dengan pemecatan pelatih ditengah jalan. Sejak dibawah kepemilikan Roman Abramovich, klub asal London ini kerap memecat pelatih walau terhitung sang pelatih belum lama dalam mengemban tugasnya, sebut saja seperti Carlo Ancelotti, Rafael Benitez, Antonio Conte, dan Jose Mourinho. Jika dibandingkan dengan tim big six di Inggris, Chelsea menjadi tim yang paling banyak melakukan pemecatan terhadap pelatih yaitu sebanyak 21 kali.


Walau dibebani dengan ekspektasi tinggi dan bayangan pemecatan yang tak menentu, Chelsea tetaplah tim besar yang mampu memikat pelatih papan atas untuk datang. Kebanyakan dari mereka malah merasa tertantang dengan kondisi yang demikian. Suasana London yang merupakan pusat kota di Inggris dan juga di dunia menjadi keinginan banyak orang untuk memiliki kehidupan yang baik dan berkarir disana.

Tak butuh waktu lama bagi Chelsea untuk mencari sosok pengganti sang legenda, mereka akhirnya menunjuk Thomas Tuchel sebagai pelatih kepala. Sebelumnya Tuchel juga mengalami nasib yang sama dengan Frank Lampard karena ia dipecat oleh Paris Saint Germain beberapa bulan lalu yang kini perannya digantikan oleh Mauricio Pochettino. Walaupun begitu, tak lama ia langsung mendapatkan tawaran yang tidak kalah bagusnya.

Bagi Chelsea, ini pertama kalinya mereka mendatangkan pelatih berkebangsaan Jerman, dan bagi Tuchel sendiri, ini adalah kesempatan pertamanya melatih di salah satu liga terbaik di dunia. Premier League cukup akrab dengan pelatih asal Jerman, Felix Magath-lah yang mengawalinya dengan melatih Fulham pada tahun 2014 lalu, lalu disusul Jurgen Klopp bersama Liverpool pada tahun 2015, Daniel Farke dengan Norwich pada tahun 2017, dan Jan Siewert bersama Huddersfield Town pada tahun 2019.

Thomas Tuchel, Chelsea, Thiago Silva
(Pict: SI.com)

Kedatangan Tuchel ke Stamford Bridge diharapkan dapat membenahi kondisi tim yang sedang tidak dalam performanya. Ia diharapkan mampu mengembalikan semangat tim dan memperbaiki posisi di klasemen sementara. Harapan tinggal harapan, sebenarnya apa yang bisa ditawarkan oleh Tuchel untuk dapat mengembalikan Chelsea menjadi tim yang disegani di Inggris lagi?

Jerman dikenal sebagai negara penganut filosofi sepakbola menyerang yang agresif, kaya akan taktik, dan berteknik tinggi. Hal inilah yang menjadi ciri khas pelatih asal Jerman, termasuk Thomas Tuchel. Ia mengawali karir kepelatihan seniornya di Mainz dan mampu membawa tim yang baru promosi ini stabil di Bundesliga dalam beberapa musim. Dimusim kedua setelah promosi Tuchel bahkan berhasil membawa timnya finish di zona Europa League. Saat itu Mainz berada diurutan ke-5 sebagai tim yang paling produktif dengan torehan total 49 gol. Kombinasi André Schürrle dan Sami Allagui cukup mematikan dimana masing masing mencetak 14 dan 10 gol.

Tak hanya di Mainz, tim yang pernah ditanganinya seperti Borrusia Dortmund dan Paris Saint Germain juga mengadopsi gaya permainan yang sama. Dua musim di Dortmund, rataan gol permusimnya mencapai 77 gol, dan dua musim di Paris Saint Germain, rataan gol permusim mencapai 90 gol. Catatan tersebut memang tidak menjamin hal yang sama akan terjadi di Chelsea, karena kondisi persaingan dan komposisi tim yang berbeda. Namun hal ini mengisyarakatkan bahwa Chelsea akan tampil lebih menyerang dan potensi untuk mencetak gol akan semakin terbuka lebar.

Chelsea sudah menjalani dua pertandingan bersama Tuchel dan perbedaan cukup jelas terlihat dimana Chelsea bermain ofensif dan lebih sering untuk melakukan umpan progresif ke area pertahanan lawan. dari dua pertandingan tersebut, tercatat mereka mampu melepaskan 32 kali umpan kunci, dan 33 tembakan dengan rincian 13 yang mengarah ke gawang dan 14 meleset dari sasaran. Sayangnya, hanya dua yang akhirnya berbuah menjadi gol.

Dari segi formasi, Tuchel menempatkan tiga bek tengah, di dukung oleh dua wing-back yang responsibel dalam urusan bertahan dan menyerang. Kemudian ditengah di tempati oleh dua gelandang, salah satunya lebih memiliki kebebasan untuk beroperasi di sepertiga area lawan ketika sedang dalam keadaan menyerang, dan yang satunya bertugas menjaga kedalaman. Kemudian di depan di isi oleh satu penyerang tunggal didukung oleh dua gelandang serang yang bergerak bebas untuk mencari ruang.

Chelsea, Thomas Tuchel
Hudson-Odoi dan Marcos Alonso sebagai wing-back berperan penting membantu serangan dari kedua sisi sayap

Dari dua pertandingan jelas terlihat bahwa wing-back akan memiliki peran vital dalam sistem permainan Tuchel. Callum Hudson-Odoi terlihat sangat menikmati peran barunya disisi kanan sebagai wing-back. Walau posisi aslinya adalah penyerang sayap, kepiawaiannya dalam bertahan patut untuk diapresiasi. Kecepatannya disisi sayap kanan kerap memberikan masalah bagi barisan pertahanan lawan. Sejak kedatangan Tuchel, Hudson-Odoi menjadi pemain yang paling menonjol penampilannya diantara yang lain. Ia terus bergerak, mencari dan membuka ruang bagi rekannya di lini depan.

Selain menyerang wing-back juga harus piawai dalam bertahan. Butuh pemain yang memiliki kemampuan sama baiknya untuk mengisi pos tersebut. Mungkin itulah sebab mengapa Marcos Alonso yang terakhir kali bermain sejak bulan september lalu kembali dipercaya untuk mengisi pos wing-back kiri. Alonso telah membuktikan bahwa ia memang memiliki kapasitas sejak era Antonio Conte.

Kedatangan Tuchel juga diharapkan mampu membangkitkan performa pemain yang baru di datangkan di jendela transfer musim panas, Timo Werner dan Kai Havertz. Hingga pertengahan musim, keduanya masih belum memberikan dampak berarti di lapangan, Timo Werner baru mencetak 4 gol dan 4 asis, sementara Havertz baru mencetak 1 gol dan 2 asis. Sangat berbanding terbalik ketika keduanya masih bermain di Jerman.

Kai Havertz, Timo Werner, Chelsea


Faktor adaptasi menjadi salah satu dari sekian penyebab menurunnya penampilan mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa selain teknik, faktor fisik juga menjadi fokus penting untuk dapat bersaing di Inggris, hal ini terlihat dibeberapa pertandingan keduanya masih belum terbiasa dengan tekanan fisik dengan intensitas tinggi dari lawan. Tuchel harus bisa menuntun keduanya untuk menemukan kepercayaan dirinya kembali, apalagi sesama orang Jerman setidaknya lebih mempermudah dalam urusan komunikasi, baik di luar maupun ketika memberikan instruksi di dalam lapangan.

Dengan filosofi menyerang yang dimiliki, diharapkan membuat proses adaptasi gaya bermain tidak membutuhkan waktu yang lama, dan pemain bisa segera nyetel dengan apa yang diinginkan. Melihat di dua pertandingan awal rasanya sudah memberikan sebuah progres positif, walau memang masih banyak kekurangan dan pekerjaan yang harus diselesaikan dibenahi lagi.

Rasanya, akan menjadi sebuah perjalanan yang panjang bagi Thomas Tuchel di kota yang dikenal sebagai kota mode di dunia, selain Milan dan New York.